Hari 7: Street Food Craving @Bangkok (2D SINGAPORE + 6D THAILAND TRIP)

This is our last trip in Thailand for this season, karena keesokan harinya kami akan meninggalkan Thailand.

So… Hari itu kami bangun pagi-pagi karena rencana kami hari ini adalah memuaskan lambung kami dengan street food Thailand yang terkenal eksotis.

Tanpa sarapan, kami langsung menuju ke stasiun BST dekat hostel untuk menuju ke Bang Na. Sesampainya di Bang Na kami langsung mencari motorbike taxi atau ojek disekitar stasiun untuk mengantarkan kami ke pelabuhan Wat Bang Na Nawk. Ongkos dari Bang Na ke pelabuhan adalah 20 Baht. Disana terdapat pelabuhan yang terhubung ke Bang Nam Phueng. Penyeberangan dilakukan dengan menggunakan ferry dengan ongkos hanya 4 Baht/person. Ferry yang digunakan tidak hanya mengangkut orang saja, bahkan beberapa motor pun ikut terombang-ambing diatasnya.  Tiba di pelabuhan Bang Nam Phueng, kami berjalan sekitar 50 meter menuju pos antrian ojek. Saya menyebutnya pos antrian ojek bukan pos pangkalan ojek, karena ojek selalu datang dan pergi, tidak ada satu ojek pun yang mangkal disana. Tiba giliran kami untuk ngojek ke tujuan pertama kami, Bang Nam Phueng floating market. Ongkos ojek dari pelabuhan menuju floating market rata-rata adalah 10 Baht (sumber dari beberapa website), tapi apesnya saya harus membayar 20 Baht sedangkan Delvo hanya membayar 10 Baht (kzl, but it’s okay!). Untuk masuk ke floating market, kami harus melalui jalan semen di pinggiran sungai. Tidak seperti floating market pada umumnya, pedagang di Bang Nam Phueng floating market tidak menjajakan dagangannya diatas perahu, tapi sudah ada tempat seperti stand. Mungkin disebut floating market karena lokasinya berada diatas bantaran sungai. Adapun alasan kami memilih Bang Nam Phueng floating market daripada floating market lainnya adalah karena mayoritas konsumennya adalah orang lokal, dari review di beberapa website mengatakan bahwa harga disana relatif murah (harga lokal), dan satu hal yang pasti adalah Bang Nam Phueng floating market is not a tourist trap! I guarantee it. Kami mencoba berbagai makanan dan minuman, mulai dari bihun babi, coconut ice cream, gac juice, dan beberapa jajanan lain yang jarang bahkan tidak ditemui di Indonesia. Souvenirs untuk oleh-oleh juga dijual relatif murah disini, dan pastinya boleh ditawar. Puas berjajan ria, kami langsung kembali menuju ke pelabuhan mengendarai ojek dengan ongkos yang sama saat kami berangkat, tapi kali ini saya cukup membayar 10 Baht saja. Ongkos penyebrangan juga masih sama, yaitu 4 Baht.

Kami kembali ke stasiun BTS untuk menuju ke tujuan kedua kami, Chatuchak. Untuk menuju ke Chatuchak kami harus turun ke stasiun BTS Mo Chit, lalu menuju ke exit 1 Chatuchak Park. Turun dari stasiun BTS, sudah berjejer beberapa pedagang kaki lima di depan pagar Chatuchak Park. Hanya berjarak sekitar 100 meter dari stasiun BTS, kami sudah sampai di Chatuchak Weekend Market. Seperti yang telah disebutkan, bahwa Chatuchak Weekend Market hanya buka saat weekend saja dan waktu kami mengunjunginya pada hari Sabtu. Chatuchak Weekend Market menjual berbagai macam pakaian, makanan, aksesoris, dan segala macam souvenirs unik yang dapat digunakan sebagai oleh-oleh. Di Chatuchak Market, Delvo membeli oleh-oleh untuk keluarga dan teman kantornya, lalu apa yang saya lakukan? menemani Delvo dan jajan (lagi), walaupun perut saya sudah cukup dipenuhi oleh tumpukan makanan di trip sebelumnya. Dari sebelum trip ke Thailand, list makanan ‘ngidam’ sudah saya buat dan ada satu yang paling ingin saya coba. Setelah cukup lama menemani Delvo beli oleh-oleh, akhirnya kami mulai memutari pasar yang penuh sesak oleh turis itu. Hingga akhirnya saya menemukan makanan yang bikin saya ‘ngidam’ yang dijual disebuah warung. Ketan susu yang diberi irisan manga diatasnya, mango sticky rice atau bahasa lokalnya khao niew mamuang itulah sebutannya, rasanya mak nyus dan buat pingin nambah terus, tapi apa daya perut sudah tidak muat lagi. Setelah ‘ngidam’ sudah terpenuhi, kami lanjut memutari kedalaman pasar, hingga kami menemukan toko yang menjual sabun berbentuk unik yang membuat semua wanita terpesona (bahkan pria, tapi bukan kami). Kami sudah coba menawarkan oleh-oleh sabun unik itu ke sahabat-sahabat kami, tapi sepertinya mereka sungkan untuk mau menerimanya. Setelah sekitar satu hingga dua jam kami memutari pasar, kami putuskan untuk menyudahinya dan lalu menuju ke Chatuchak Park untuk rehat.

Setelah cukup lama rehat, kami kembali berjalan ke stasiun BTS untuk menuju ke tujuan terakhir kami, Khao San Road. Khao San Road merupakan jalan raya atau area surga backpacker yang berkunjung di Thailand. Kenapa begitu? Khao San Road banyak menyediakan penginapan murah, lokasinya pun tidak jauh dari sungai Chao Phraya dan landmark-landmark di Bangkok, adapun turis dapat menemukan berbagai macam hiburan siang maupun malam disana. Tapi ada juga kontranya, harga makanan di Khao San Road relatif lebih mahal (jika saya bandingkan dengan harga makanan di dekat penginapan saya) dan belum terjangkau BTS. Untuk menuju ke Khao San Road, kami turun di stasiun BTS Victory Monument, lalu mencari bus menuju ke Khao San Road. Bus menuju Khao San Road berhenti di halte dekan rumah sakit Rajavithi dengan nomor bus 157, 171, dan 509 (sumber: http://www.bangkok.com/area-khao-san-road/review.htm). Hingga satu jam, bus yang kami nantikan tak kunjung datang. Kami pun sudah mulai menyerah dan berdiskusi untuk menggunakan moda transportasi lainnya, yaitu taksi yang pastinya dengan biaya lebih mahal. Tapi kami tetap kekeuh menunggu di halte, hingga bus 114 atau 157 (saya lupa) datang. Kami segera masuk, dan membayar sekitar 40 Baht untuk menuju ke Khao San Road. Perjalanannya cukup lama mengingat jalan yang dilalui sangat padat dan cukup macet. Sekitar 40 menit kemudian, akhirnya bus tiba. Kami turun di halte yang cukup jauh dari Khao San, sehingga kami harus mengeluarkan tenaga lebih untuk berjalan kaki. Khao San Road disiang hari cukup tenang, walaupun cukup dipenuhi oleh turis mancanegara (terutama turis barat). Tidak banyak yang kami coba, hanya lumpia, kebab, dan satu makanan yang ada di wishlist saya, KALAJENGKING. Sales-sales menawarkan kalajengking dengan harga yang cukup mahal seekornya. Awalnya mereka akan menawarkan seharga 200 Baht, setelah tawar menawar akhirnya saya membeli satu ekor kalajengking goreng dengan harga 50 Baht. Satu kalajengking goreng kami bagi berdua, 25% untuk saya (bagian ekor dan 1 capit) dan sisanya terpaksa harus dilahap Delvo (sedih lah). Kami pun saling memotret reaksi satu sama lain saat menikmati kalajengking. Berbeda dengan bayangan aneh saya, ternyata kalajengking goreng hanya terasa crispy kulit atau cangkangnya saja, tidak ada rasa aneh, jeroan kalajengking, ataupun lendir hijau seperti yang ada dipikiran saya. Kami lanjutkan perjalanan kami menuju gang-gang disekitar, banyak terlihat jasa Thai massage dipinggir-pinggir jalan. Kami pun langsung menuju ke pelabuhan di pasar Banglamphu dan menyudahi perjalanan kami hari itu.

 

P.S.: Maaf fotonya kurang jelas, karena kami hanya menggunakan kamera handphone saja

 


Album foto yang lebih lengkap, silahkan kunjungi halaman Facebook saya atau https://imgur.com/a/sayxw