Hari 4: A Quick Trip @Bangkok (2D SINGAPORE + 6D THAILAND TRIP)

Kami telah memasukkan sebagian barang bawaan kami ke dalam tas pada malam sebelumnya. Alarm handphone membangunkan saya pada pukul delapan pagi, ya cukup siang karena agenda kami di Pattaya sudah habis. Agenda kami hari itu hanya kembali ke Bangkok dengan bus dan jalan-jalan hingga petang disana. Setelah bersiap-siap, kami awali pagi itu dengan mencari sarapan disekitar Jomtien beach. Kami menerawang menu-menu yang disajikan di depan kedai dan depot di sepanjang pinggiran jalan namun tidak ada yang cocok, hingga akhirnya Delvo melihat penjual mie gerobak di depan sebuah toserba. Kami parkir motor yang kami kendarai di depan toserba dan memesan sarapan kami. Rata-rata harga makanan di Pattaya adalah sekitar 40 hingga 50 THB dengan rasa yang menurut saya kurang maknyus, tapi mie bihun dengan topping kulit dan daging (sepertinya babi) yang melimpah yang disajikan ibu dibelakang gerobak itu benar-benar maknyus dengan hanya 20 THB saja. Setelah kenyang kami langsung kembali ke hostel untuk mengambil barang-barang kami dan check out.

Pada saat kami check out, pihak hostel juga memeriksa kondisi sepeda motor yang kami sewa terutama bbm harus full. Setelah beres kami langsung keluar untuk mencari songthaew di sekitar hostel, beruntungnya Mr. J akan keluar dengan mobilnya menuju rumah sakit di dekat terminal bus. Mr. J menawari kami untuk menumpang di mobilnya dengan membayar 100 THB untuk kami berdua. Kami terima saja tawarannya, karena biaya yang kami habiskan apabila mengendarai songthaew hampir sama dengan harga yang ditawarkan Mr. J. Selama 15 hingga 20 menit di dalam mobil, kami mengobrol banyak hal, mulai dari alasan Mr. J tidak mau mengunjungi Indonesia lagi, membicarakan tentang pemerintahan Thailand, hingga topik yang sensitif bagi masyarakat Indonesia, yaitu AGAMA. Dia juga bercerita tentang pengalamannya di Indonesia pada tahun 1992, lalu hal-hal yang dia lakukan setelah dia keluar dari Indonesia, hingga kepercayaan dan orientasi seksualnya. Setibanya di terminal bus, kita berpamitan dan lalu dia berucap “Jangan lupa review ya… Kalian juga boleh mengatakan saya gila atau apa pun”, kami merespon ucapannya dengan cengiran lembut dan cabut menuju loket pembelian tiket. Tujuan pemberhentian kami di Bangkok adalah terminal bus Ekkamai karena dekat dengan stasiun BTS (monorail yang hanya ada di Bangkok). Tiket bus Pattaya – Ekkamai dijual seharga 130 THB dengan waktu tempuh kurang lebih satu hingga satu setengah jam (tergantung lalu lintas). Bus datang setiap 30 menit, jadi kami tidak khawatir tertinggal bus. Pada tiket bus sudah tertera nomor tempat duduk dan penumpang dapat menitipkan barang bawaannya pada bagasi.

Setibanya di Ekkamai, kami langsung keluar menuju stasiun BTS. Kami sempatkan mengisi perut kami di kedai dekat jalan keluar terminal Ekkamai, dan baru menuju ke stasiun BTS. Tiket BTS yang kami beli adalah tiket single journey untuk rute Ekkamai menuju Bang Chak, dimana hostel yang telah kami booking dari Booking.com berada. Sial kami, ternyata Bang Chak cukup jauh dari destinasi-destinasi yang telah kami rencanakan, sehingga biaya yang kami keluarkan untuk transportasi menggunakan BTS cukup membengkak. Setibanya di Bang Chak kami langsung mencari lokasi hostel kami yang ternyata berada di gang yang cukup dalam. Setelah check in kami diantar menuju ke kamar kami oleh pemilik hostel. Kamar berada dilantai dua, ukurannya tidak terlalu luas, lantainya terbuat dari kayu sehingga cukup memberikan suasana sejuk, ada dua toilet dan dua kamar mandi untuk sharing berukuran kecil berada di seberang kamar, dan tepat diluar kamar terdapat meja makan dan wastafel. Ya, cukup worthed, namun tidak se-worthed hostel di Jomtien.

Tidak seperti kartu EZLink untuk transport di Singapore, BTS hanya menyediakan single journey ticket, one day pass seharga, dan 30 days pass saja. Biaya tiket untuk single journey dibanderol seharga 10 hingga 52 THB tergantung jarak yang ditempuh.  BTS selalu ramai dan dipenuhi oleh penumpang, terutama saat rush hour pada pagi hari dan saat jam pulang kerja (sekitar jam empat hingga lima sore), karena itu lebih baik hindari jam-jam tersebut.

Setelah bongkar-bongkar tas dan mempersiapkan barang, kami langsung keluar untuk menuju ke destinasi pertama kami, Jim Thompson House. Kami berjalan menuju ke stasiun Bang Chak, lalu disana membeli tiket menuju National Stadium. Keluar dari stasiun National Stadium, kami mengikuti petunjuk Google Maps menuju sebuah gang dimana tujuan kami berada. Sesampainya di Jim Thompson House, kami menuju loket pembelian tiket dan membelinya seharga 150 THB per orang. Di loket itu kami disuguhi pilihan tour berdasarkan bahasanya, tentu saja kami pilih tour dalam bahasa Inggris. Sistem tour disana terbilang sangat terstruktur, pengunjung dibagi menjadi beberapa grup berdasarkan bahasanya, saat itu kami dilibatkan dalam grup F. Seorang pemandu wanita datang dengan membawa papan petunjuk nama grup, dan meminta pengunjung dalam grup tersebut untuk berkumpul kepadanya. Dia lalu menjelaskan ketentuan-ketentuan tour, antara lain: tidak boleh mengambil foto saat di dalam rumah, tas harus dititipkan ke dalam loker yang telah disediakan, tidak boleh mengenakan alas kaki (sandal/sepatu) di dalam rumah, dilarang menyentuh bahkan memindahkan barang-barang disana. Awalnya kami diajak berjalan melewati taman dengan tumbuhan-tumbuhan dan kolam ikan yang berbentuk vas menuju ke loker penitipan tas. Setelah semua tas pengunjung dimasukkan ke dalam loker, kami diajak menelusuri bagian luar rumah terlebih dahulu, dan baru dilanjutkan masuk ke dalam rumah. Di luar rumah terlihat berbagai macam ornamen. Di dalam rumah juga terdapat berbagai macam koleksi, foto, keramik, dan furnitur yang dimiliki dan digunakan oleh Jim Thompson semasa tinggalnya disana. Si pemandu juga menjelaskan kehidupan Jim Thompson dan saat-saat dimana Jim Thompson menghilang. Selama sekitar satu setengah jam tour kami tidak mengambil foto satu pun, karena kami tidak ingin melewatkan informasi yang disampaikan oleh pemandu tentang Jim Thompson, rumah, dan perabotnya. Barulah setelah tour selesai kami diijinkan untuk berkeliling, namun tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah.

 

Setelah selesai berkeliling di rumah Jim Thompson, kami berjalan melihat kanal di belakang rumah dan dilanjutkan menuju Siam untuk mengunjungi MBK. Kami berdua bukan tipe pria shopping, jadi kami hanya melihat-lihat saja disana. Saya ingin mencoba kue lekker yang dijual di stand-stand di lantai atas MBK, dan Delvo ingin mencicipi juicy-nya daging burger di Burger King. Kami akhiri perjalanan kami hari itu dan kembali ke hostel dan mencicipi kue lekker yang kami beli.

 

Info tentang Jim Thompson Hose dapat dilihat di http://www.jimthompsonhouse.com/

Info rute dan harga BTS dapat dilihat di http://www.bts.co.th/customer/en/02-route-current_new.aspx

 

Hari itu saya hanya mengambil gambar di Jim Thompson House saja, karena yang lain memang tidak terlalu catchy bagi saya.

 


Album foto yang lebih lengkap, silahkan kunjungi halaman Facebook saya atau https://imgur.com/a/sayxw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *