Hari 2: A Quick Welcome to @Pattaya (2D Singapore + 6D Thailand Trip)

Sekitar jam tiga subuh, saya terbangun dari tidur singkat saya. Selang jarang beberapa centimeter, terlihat Delvo yang masih tidur dengan berbantal tas yang kami bawa. Saya mencoba memejamkan mata kembali untuk mengemat daya, karena mungkin malam itu saya hanya tidur sekitar tiga jam saja, ditambah hutang tidur di malam sebelumnya. Sekitar pukul setengah empat, kami mulai bangun dan merasakan udara yang semakin dingin di public area Changi Airport. Sembari menunggu loket check in dibuka, kami berjalan-jalan di sekitaran public area dan mampir ke kedai Kaffe and Toast untuk menikmati hangatnya kopi dan gurihnya kaya toast. Setelah merasakan badan kami yang mulai hangat, kami tinggalkan kedai tersebut dan naik menuju ke loket check in.

Saat itu counter check in baru saja dibuka, tanpa antre kami langsung menuju ke petugas loket dan menyerahkan passport kami. Boarding pass telah kami dapatkan, dan akhirnya kami dapat kembali ke transit lounge yang nyaman. Tanpa ba bi bu, kami langsung berjalan menuju Gate F tepat di depan ruang tunggu pesawat kami. Kami menunggu cukup lama disana, karena memang boarding dijadwalkan pada pukul 06.10. Menjelang boarding, kami melihat tidak ada petugas yang datang untuk membukakan pintu ruang tunggu. Kami pun coba bertanya pada petugas sekitar, dan ternyata ruang tunggu kami dipindah tidak jauh dari lokasi semula. Antrean security check sudah terlihat cukup panjang, kami pun memarkirkan diri dan barang bawaan kami di paling belakang dan terus maju hingga kami masuk ke ruang tunggu. Panggilan boarding pun akhirnya terdengar, kami dipersilahkan untuk menaiki bus yang akan mengantarkan kami menuju ke pesawat. Kami pun duduk di baris ke-29, yaitu satu baris dari kuris yang paling belakang. Pesawat mulai take-off pada pukul 06.40, dan diperkirakan tiba di Suvarnabhumi Bangkok pada pukul 08.00. Saya memanfaatkan waktu perjalanan tersebut hanya untuk tidur, karena masih ada kegiatan-kegiatan yang akan saya lakukan di Pattaya.

Setibanya di Suvarnabhumi Airport, terlebih dahulu kami mengisi perut kami yang sudah keroncongan di restoran yang menyediakan beberapa masakan khas Thailand. Setelah perut kami terisi, kami beralih menuju satu lantai ke bawah untuk membeli SIM Card. Kami membeli satu SIM Card AIS yang menyediakan kebutuhan internet kami selama di Thailand. Setelah itu, kami mencari petunjuk menuju loket penjualan tiket shuttle bus yang akan kami tumpangi untuk menuju ke Pattaya. Loket shuttle bus menuju ke Pattaya berada di lantai paling bawah, tepat didepan kantin bandara. Kami pun membeli dua buah tiket yang masing-masing berharga 120 Baht dan lalu menuju keluar untuk menunggu bus datang. Bus pun akhirnya tiba, kami menitipkan barang kami untuk diletakkan di bagasi dan lalu langsung naik menuju ke kursi yang tertera pada tiket yang kami dapatkan. Penumpang bus tersebut kebanyakan bule yang mungkin sedang akan berlibur ke Pattaya. Kernet pun datang menanyakan kepada setiap penumpang tempat pemberhentian yang diingini. Penumpang bagian depan mulai menyebutkan North, Central, dan Jomtien. Saat kami ditanya, saya menjawab Central, karena tujuan awal kami menuju ke Sanctuary of Truth. Kami kembali berdiskusi tentang lokasi kami turun, dan akhirnya kami memutuskan untuk merubah tujuan kami ke Jomtien agar kami dapat meletakkan barang bawaan kami terlebih dahulu di hostel yang telah kami pesan, serta beristirahat sejenak karena kami sudah cukup ‘tepar’. Dan lagi, selama perjalanan saya hanya tidur dan tak acuh pada pemandangan jalan yang dilewati. Perjalanan dari Suvarnabhumi Airport menuju ke Pattaya memakan waktu kurang lebih satu setengah jam.

Bus kami pun akhirnya tiba di Pattaya. Kesan pertama kami saat melihat kota Pattaya adalah kota ini mirip dengan kota di Indonesia. Supir bus pun mulai berhenti di beberapa pos untuk menurunkan penumpangnya hingga tiba di pos terakhir yaitu Jomtien. Saat kami turun dari bus, kami melihat ojek dan supir songthaew (baht bus) menyambut kami untuk menawarkan jasanya. Terlebih dahulu kami ambil tas kami dari bagasi bus, lalu bertanya ke salah satu supir songthaew harga menuju ke hostel yang akan kami tinggali. Si supir songthaew menunjukkan tiga jarinya, dan saya mengkonfirmasinya dengan berkata “Thirty? Thirty?”. Si supir meresponnya dengan gelengan kepala, lanjutnya “Three hundred”, saya pun tersentak kaget dan menolak tawaran itu. Saya mencoba cek Google Maps untuk melihat arah ke hostel, dan ternyata jarak yang ditempuh cukup jauh, sekitar 20 menit perjalanan dari lokasi kami. Kami pun memutuskan untuk berjalan kaki terlebih dahulu sembari menanti songthaew yang akan meng-klakson kami untuk menawarkan jasanya. Setelah berjalan cukup jauh, tidak ada satu pun songthaew yang meng-klakson, kami pun juga mulai lelah. Di perjalanan kami melihat kedai terbuka dengan menu makanan yang cukup banyak. Kami singgah disana dan tenaga yang telah kami habiskan setelah berjalan jauh. Saya memesan pad thai dan Delvo memesan American fried rice. Setelah mengisi tenaga, kami melanjutkan perjalanan kami hingga kami memasuki gang menuju ke arah pantai Jomtien. Di sepanjang jalan di pinggir pantai Jomtien ternyata banyak songthaew lalu-lalang. Akhirnya ada sebuah songthaew yang sedang menawarkan jasanya, tanpa pikir panjang kami langsung menaiki songthaew tersebut hingga akhirnya tiba di jalan di depan gang hostel kami. Kami berikan uang sejumlah 20 Baht sebagai ongkos perjalanan dan sebagai upah karena telah menyelamatkan kami. Setelah berjalan tidak cukup jauh, hostel yang telah kami pesan pun mulai terlihat.

Sebelum kami berangkat ke Thailand, saya sudah mencari informasi tentang transportasi publik di Pattaya, dan banyak orang yang memang menyebutkan songthaew sebagai salah satu transportasi yang paling ekonomis. Adapun tambahan keterangan yang diberikan apabila ingin menumpangi songthaew, yaitu jangan mencari songthaew yang sedang parkir atau menyebutkan tujuan kita kepada supir songthaew, karena supir akan menawarkan harga yang setara transportasi private seperti layaknya taksi. Apabila ingin menumpangi songthaew, dihimbau untuk mencari songthaew yang sedang jalan saja tanpa menyebutkan arah tujuan kita. Supir songthaew yang sedang mencari penumpang akan mengklakson untuk menawarkan jasanya, dan apabila kita ingin menggunakan jasanya, kita dapat meresponnya dengan melambaikan tangan. Satu lagi saran saat kita akan menumpangi songthaew, cari songthaew yang berjalan searah dengan tujuan kita, apabila jalur songthaew sudah tidak sesuai dengan arah tujuan, maka turun saja dan cari songthaew lain yang searah dengan tujuan, memang cukup repot. Biaya yang dikeluarkan untuk menumpangi satu songthaew adalah berkisar 10 hingga 20 Baht, tergantung jarak yang kita tempuh. Menurut pendapat saya, apabila jarak tujuan kita tidak terlalu jauh dan tidak terlalu ruwet, maka songthaew adalah pilihan terbaik, tapi apabila kondisi tersebut tidak terpenuhi, mencari ojek adalah solusi yang budget-wise. Pendapat tersebut hanya berlaku jika kita tidak melakukan trip dalam grup yang cukup besar (hanya satu sampai tiga orang saja), selain itu, menyewa songthaew masih menjadi pilihan yang baik.

Saat itu sekitar pukul 13.40, kami tiba di hostel dan disambut oleh seorang bule yang sedang memasak. Dia mengarahkan kami menuju meja resepsionis, dan kami pun melakukan proses check in. Sembari proses check in berlangsung, si bule sebut saja Mr. J menanyakan asal kami, dan kami pun menjawab kami berasal dari Indonesia. Mr. J merespon jawaban kami dengan berteriak “Aduuuhhhh, Indonesia lagiiii…”, kami pun cengar-cengir mendengarnya. Sebenarnya kami pernah membaca review pengguna Agoda tentang hostel tempat kami menginap, ada seorang reviewer yang berasal dari Indonesia menyebutkan bahwa ownernya memang bisa bicara dalam Bahasa Indonesia, karena itu kami tidak terlalu terkejut mendengar teriakan Mr. J. Kami pun mulai ngobrol tentang kondisi Indonesia saat ini, berapa lama kami tinggal, dan hal-hal lainnya tentang asal muasal kami dan Mr. J. Dari situ pun kami tahu bahwa Mr. J pernah tinggal selama kurang lebih tujuh tahun di Indonesia. Setelah ngobrol cukup lama (sekitar 10 menit) kami berpamitan dengan Mr. J dan menuju ke kamar kami diantar oleh ‘mbak’ resepsionis tadi. Sesaat setelah ‘mbak’ resepsionis meninggalkan kami di kamar, saya langsung bertanya kepada Delvo “Vo, iku mau ladyboy yo?”, Delvo menjawab “Hah? mosok?”. Saya berasumsi seperti itu karena saya melihat tampangnya yang cukup maskulin dengan kumis tipis diatas bibirnya, walaupun ada rasa ketidak pastian karena perhatian saya dialihkan ke suaranya yang feminim. Yah, diskusi itu akhirnya tidak kami lanjutkan dan langsung istirahat merebahkan badan kami di kasur queen size yang empuk. Ya kami tidur pada satu kasur queen size, Anda tidak perlu berpikir negatif, karena kami (atau saya) masih straight.

Setelah beristirahat selama kurang lebih satu jam, kami memutuskan untuk keluar sambil mencicil sebagian trip kami di Pattaya. Beruntungnya, hostel menyediakan persewaan motor dengan harga yang cukup murah, yaitu 120 Baht per hari (informasi dari internet: rata-rata harga sewa motor di Pattaya sekitar 150-250 Baht). Kami langsung saja menyewa sebuah motor untuk kami gunakan selama dua hari di Pattaya. Syarat yang dibutuhkan hanya scan passport yang telah di scan saat proses check in dan biaya sewa yang dibayar dimuka. Adapun ketentuan lainnya adalah, tangki bbm motor akan diisi penuh saat kami mulai menyewa, sehingga saat kami mengembalikan juga harus terisi penuh. Mr. J pun tidak lupa menyampaikan untuk berhati-hati selama perjalanan dengan motor yang disewakan, dia juga menyampaikan bahwa jangan melanggar rambu-rambu maupun peraturan lalu lintas terutama jangan parkir sembarangan, karena sanksi yang diberikan juga sangat ketat. Kami pun menerima sarannya dengan baik karena kami tahu saat itu kami sedang tinggal di negara orang, karena itu kami selaku orang yang hanya menumpang harus mematuhi segala peraturannya. Tidak lupa saya mengambil gambar motor yang kami sewa sebagai langkah preventif apabila terjadi hal yang tidak diinginkan.

Tujuan pertama kami adalah Khao Pattaya View Point. Selama perjalanan menuju ke Khao Pattaya, kami memperhatikan perilaku pengguna jalan di Pattaya. Mayoritas pengendara memperhatikan rambu-rambu dan mematuhi peraturan lalu lintas, tidak seperti pengendara di kota-kota besar yang telah saya kunjungi di negara asal saya (maaf, ini berdasarkan fakta). Namun, sempat kami melihat anak muda yang sepertinya adalah turis bermata sipit dan berkulit putih kebut-kebutan di jalan tanpa menggunakan helm. Ada seorang polisi yang dengan sigap memberhentikan laju kendaraan mereka, dan terlihat turis tersebut menunjukkan surat-surat kepada pak polisi tersebut. Kami tancap gas saja menuju tujuan kami dengan sedikit bergunjing tentang insiden tersebut.

Setibanya di Khao Pattaya View Point, banyak motor yang telah terpakir rapi disepanjang pinggiran jalan yang telah diberi garis pembatas parkir. Kebanyakan turis yang kami lihat disana berkarateristik mata sipit dan kulit putih, hanya sedikit orang-orang barat yang kami jumpai. Pemandangan kota Pattaya dengan pantai dan lautnya yang indah menyambut kehadiran kami disana. Spot pertama di dekat parkiran motor cukup ramai, sehingga kami berjalan menuju spot yang lebih tinggi. Disana tersedia sebuah teropong berwarna merah, hanya memasukkan sebuah koin, turis dapat menikmati seluk beluk kota Pattaya melalui lensa teropong merah itu. Disana kami mengambil beberapa foto karena pemandangannya kota, pantai, dan laut yang begitu indah serta kami juga dapat melihat kesibukan di pelabuhan Pattaya. Didekat situ, ada pula monumen Kromluang Chomphonkhetudomsak yang merupakan pendiri angkatan laut Thailand. Di monumen itu, pengunjung dapat membakar dupa, meninggalkan karangan bunga, dan melakukan penghormatan.
(referensi: http://www.bangkok.com/pattaya/attractions/khao-pattaya-view-point.htm)

Setelah puas mengunjungi dan mengambil gambar di Khao Pattaya, kami melanjutkan perjalanan kami menuju destinasi kedua, yaitu Wat Phra Khao Yai yang terletak tidak jauh dari lokasi kami saat itu. Saat kami tiba disana, suasana masih cukup sepi, hanya beberapa turis saja yang terlihat. Hal pertama yang kami lihat adalah tangga yang diapit oleh naga atau ular yang memiliki banyak kepala dan patung Buddha emas yang mungkin sedang direnovasi terlihat di ujung tangga. Kami pun berjalan melewati tangga tersebut sambil mengambil gambar tangga serta ornamen disekitar. Di atas terlihat banyak patung-patung biksu emas. Setiap patung memiliki arti yang berbeda. Terlihat seorang wanita sedang melempar sesuatu ke dalam lubang yang ada di badan patung, entah apa artinya dia melakukan hal itu. Disini, pengunjung juga dapat memberikan penghormatan mereka pada patung-patung emas tersebut. Kami berdiri di dekat balkon, saat menengok kebawah, kami melihat tiga wanita berpakaian putih sedang menari atau melakukan suatu ritual. Setelah mata kami puas, kami pun kembali turun ke parkiran tempat kami memarkirkan sepeda motor sewaan itu.
(referensi: http://www.bangkok.com/pattaya/attractions/wat-phra-yai-temple.htm)

Sebelum kami pergi meninggalkan hostel, Mr. J sempat mengatakan kalau kami dapat menikmati indahnya sunset di The Sanctuary of Truth tanpa perlu membayar bea tiket masuk. Dia mengatakan kita dapat menikmatinya di sekitar jalan 13. Kami pun mencoba mencari lokasi yang Mr. J sampaikan, dan tiba di lokasi pembelian tiket The Sanctuary of Truth, namun tidak menemukan lokasi yang dia maksud. Sore itu, kami tidak membeli tiket masuk karena mengunjungi The Sanctuary of Truth sudah terjadwal pada hari kedua kami di Pattaya. Kami hanya leyeh-leyeh di depan pintu masuknya saja, lalu keluar mencoba mencari kembali lokasi yang disampaikan Mr. J. Setelah putus asa karena tidak menemukannya, kami memutuskan kembali ke hostel. Saat kami tiba di pinggir pantai Jomtien, sekitar jam enam kami melihat Jomtien Night Market yang mulai ramai. Kami pun segera kembali ke hostel, mandi dan bersiap-siap untuk mencari makan dan jajan ke Jomtien Night Market. Saya mengajak Delvo untuk jalan kaki menuju kesana, namun tempatnya cukup jauh dari hostel. Akhirnya kami menumpangi salah satu songthaew, dan turun di ujung jalan pinggiran pantai Jomtien. Banyak kedai-kedai yang menyajikan beragam menu pilihan di pinggiran pantai Jomtien, kami pun mampir ke salah satu kedai tersebut untuk makan malam. Setelah makan malam, kami melanjutkan perjalanan kami menuju night market untuk mencari jajan. Jomtien Night Market menyediakan berbagai pilihan jajanan, mulai dari buah-buahan, sayuran, beberapa varian daging, hingga makanan berat (seperti nasi). Pork ribs, onion bread, dan sate barbeque menggugah air liur untuk keluar dari mulut kami. Kami pun dengan rela hati mengeluarkan dompet, dan merogoh kocek untuk memuaskan kedagingan itu, lalu kembali ke hostel untuk menikmatinya. Dalam perjalanan ke hostel kami mampir ke sebuah toko swalayan untuk membeli persediaan air minum serta membeli dua kaleng bir Heineken. Sesampainya di kamar, kami menikmati hasil kedagingan kami. Onion bread yang kami beli sudah cukup alot karena dibiarkan terlalu lama, namun kenikmatan pork ribs dan sate barbeque membuat mulutku bergetar dan tak kuasa bilang “HUEMMMMM, JOSSSSS IKIII”. Hari itu diakhiri dengan segelas bir dingin yang menyegarkan tenggorokan kami. KANPAI!

 

 


Album foto yang lebih lengkap, silahkan kunjungi halaman Facebook saya atau https://imgur.com/a/sayxw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *