Hari 1: Departure (2D Singapore + 6D Thailand Trip)

Pesawat kami akan berangkat menuju Singapore dari Surabaya pada tanggal 4 September 2016 pukul 10.15 WIB dengan maskapai Tiger Air. Pada tanggal 4 September 2016 hingga pukul 02.00 WIB saya masih berlokasi di rumah saya di Ponorogo, dan pada pukul 02.30 saya mulai beranjak dari rumah di Ponorogo menuju ke Surabaya. Suasana jalan raya masih sangat tenang dan sepi, tak segan-segan saya memacu kecepatan motor Vario hitam yang saya tunggangi hingga 90km/jam. Hujan mulai turun saat saya memasuki kecamatan Saradan, dan berhenti hingga saya meninggalkan kota Mojokerto. Setelah sekitar empat jam dua puluh menit berlalu, saya tiba di bundaran Waru, tepatnya di depan Cito Mall Surabaya. Belum selesai sampai disitu, saya tetap memacu Vario hitam di jalanan kota Surabaya untuk bertemu dengan Delvo di meeting point yang telah dia tentukan, yaitu rumah engkong-nya. Sesampainya di rumah engkong Delvo, seorang suster membukakan gerbang dan mengijinkan saya masuk. Tak disangka ternyata dia adalah ‘tetangga’ yang asalnya dari Ngebel, dekat danau wisata yang tidak jauh dari kota Ponorogo. Saat saya tiba disana, Delvo masih akan berangkat dengan ayahnya yang akan mengantarkan kami ke Terminal 2 Juanda. Sambil menunggu Delvo, saya membersihkan diri setelah kehujanan dan kedinginan saat perjalanan. Sekitar pukul 07.15 Delvo pun akhirnya tiba, dan saya disuguhi sebuah bungkusan yang berisi nasi campur (Joss gandos!) untuk sarapan. Setelah sarapan, kami memasukkan tas kami ke dalam mobil yang akan kami tumpangi menuju ke Juanda dan langsung cus. Kami tiba di Juanda sekitar pukul 08.20, berpamitan dengan ayah Delvo, langsung menuju counter check in, melewati security check, laporan imigrasi, dan menunggu di lobby. Selang beberapa lama, panggilan untuk naik pesawat yang kami tumpangi mulai terdengar dari Announcer, dan itulah awal perjalanan kami.

Perjalanan menuju ke Singapore memakan waktu sekitar tiga jam. Aktivitas yang saya lakukan selama perjalanan adalah tidur, untuk memulihkan tenaga setelah empat jam perjalanan Ponorogo-Surabaya serta mempersiapkan fisik untuk hari pertama kami di Singapore. Kami tiba di Terminal 2 Changi pukul 13:40 waktu setempat, kami akan menghabiskan sekitar 16 jam di Singapore sebelum menuju ke Bangkok. Setelah turun dari pesawat, kami mencari counter check in yang berada di dalam lounge. Kami bertanya pada beberapa petugas lokasi counter check in Tiger Air dengan bahasa Inggris kami yang pas-pasan. Petugas tersebut dengan sabar memberi petunjuk menuju ke Transit E yang merupakan lokasi counter Tiger Air, dan kami pun mengikuti petunjuk yang diberikan oleh petugas itu. Kabar buruknya, saat kami menanyakan apakah kami bisa langsung check in untuk penerbangan esok hari, mereka menjawab bahwa check in hanya bisa dilakukan pada esok hari sebelum keberangkatan di public check in counter, yang artinya kami tidak bisa tidur di transit area Changi yang super nyaman malam itu (karena untuk kembali masuk ke transit lounge diperlukan boarding pass). Dengan berat hati, kami meninggalkan transit area Changi yang super nyaman itu dan berjalan melewati counter imigrasi ke public area. Kami telah berencana untuk pergi jalan-jalan ke kota, sehingga kami perlu menitipkan tas yang berisi pakaian dan perlengkapan kami di baggage left. Saat saya menunjukkan passport saya di counter baggage left, petugas laki-laki paruh baya dengan rambut yang mulai memutih menyapa kami “Dari Indonesia ya?” kami jawab “Iya”, petugas itu langsung merespon “Kenapa you tidak bilang, pake ngomong bahasa Inggris lagi… Ya memang kalau di Singapore tidak ngomong pakai bahasa Inggris dianggap kuno”, kami pun cengar-cengir mendengar jawabannya. Petugas itu menimbang dan kami membayar biaya penitipan barang sesuai dengan berat tas kami, lalu langsung cabut menuju ke stasiun MRT yang ada di basement Terminal 2.

Delvo membeli kartu EZ-Link yang digunakan sebagai media pembayaran saat naik MRT, sedangkan saya sudah memiliki kartu EZ-Link tersebut sejak 2 tahun yang lalu ketika saya pertama kali pergi ke Singapore (sendirian). Saat kereta datang, kami langsung naik menuju ke Bugis. Tujuan pertama kami adalah mencari Samsung Service Center, karena Delvo hendak men-servicekan Tab-nya yang chargernya rusak. Tab tersebut dibeli di Singapura, sehingga Samsung Service Center di Indonesia tidak mau menerimanya. Setelah menemukan Service Center, Delvo langsung mendaftar untuk service dan mendapatkan nomor antrean yang masih jauh dari nomor antrean saat ini. Selagi menunggu panggilan service yang masih lama, kami jalan-jalan melihat isi Plaza Singapura hingga akhirnya ‘tidak sengaja’ kami bertemu dengan 4 Fingers. Berhubung ‘daging’ kami sudah tidak kuat menahan lapar (kami belum makan sejak tiba di Singapura), akhirnya kami memutuskan untuk mencicipi ayam dengan bumbu yang gurih dan laziz ala 4 Fingers itu. Setelah itu kami mencari camilan, dan mampir ke BreadTalks untuk persediaan malam kami, tapi ya akhirnya kami langsung makan saja roti itu karena 4 Fingers masih kurang untuk memuaskan perut kami. Setelah makan dan ‘nyemil’, kami kembali ke Samsung Center dan menunggu hingga nomor antrean Delvo dipanggil. Nomor antrean Delvo pun akhirnya dipanggil, Delvo datang melaporkan keluhannya dan saya duduk menunggu sambil melihat-lihat handphone Samsung yang dipajang disana. Ternyata biaya service yang diperlukan cukup mahal hingga mengurungkan niat Delvo untuk service Tab-nya. Kami pun keluar dari Plaza Singapura untuk melanjutkan jalan-jalan kami.

Salah satu tempat yang menjadi objek wisata yang wajib dikunjungi di Singapore adalah Merlion Park, disanalah tujuan kami selanjutnya. Kami kembali menuju ke Bugis MRT Station dan menuju ke Raffless Place MRT Station yang merupakan stasiun terdekat untuk menuju ke Merlion Park. Sesampainya di Raffless Place, kami berjalan menuju Exit H, sedikit nyasar hingga akhirnya kami keluar dari MRT station. Saat kami keluar, kami menyadari bahwa kami masih jauh dari Merlion Park karena ternyata kami keluar dari Exit G. “Yah tidak apa-apa, itung-itung jalan kaki mumpung di Singapore” itu yang ada dipikiran saya. Well, tapi memang kenyataan berkata lain, sejak kami keluar dari stasiun MRT, kami disuguhkan pemandangan sungai, jembatan, taman, dan gedung-gedung pencakar langit dengan latar belakang langit sore nan indah. Lebih pas lagi, saat itu ada seorang bapak yang menjual Singapore Ice Cream (es krim yang diapit oleh biskuit), tidak ingin melewatkannya kenikmatannya, Delvo membeli dan menikmati es krim tersebut. Untunglah saya tidak lupa membawa kamera Canon A3500 milik adik untuk mengabadikan momen tersebut. Berikut adalah salah satu foto hasil jepretan kamera pinjaman adik saya:

Setelah cukup lama kami berjalan di pinggiran sungai dan taman, kami melihat Fullerton Hotel yang dibelakangnya terdapat patung Merlion lambang negara Singapura, kami pun langsung menuju kesana. Akhirnya kami bertemu dengan patung Merlion, hal pertama yang turis wajib lakukan adalah selfie dengan latar belakang patung Merlion. Delvo pun langsung menjepret dirinya sendiri dengan kamera yang tertanam pada handphonenya. Berhubung saya tidak terlalu suka menjepret diri saya sendiri, saya abadikan saja momen orang lain melalui kamera pinjaman itu.

Saat kami mencari spot lain disekitar Merlion Park, pandangan kami tertuju pada kemewahan hotel berbintang lima di seberang sungai dengan atap yang berbentuk kapal, ya, hotel itu bernama Marina Bay Sands (MBS). Dibaliknya terlihat langit megah berwarna jingga, biru, dan putih yang menjadi latar belakang kemewahan MBS. Tak kuasa menahan mata dan jari-jari ini, langsung kuambil kamera pinjaman itu dari tas dan kujepret pemandangan yang elok itu.

 

Setelah puas mengunjungi Merlion Park, kami lanjutkan perjalanan menuju ke Esplanade yang terletak tidak jauh dari Merlion Park. Disana, kami menikmati konser musik indie yang merupakan bagian dari acara harian di Theatre on the bay. Tak terasa, langit mulai menjadi gelap dan lampu-lampu gedung pencakar langit disekitaran pun mulai bersinar menunjukkan keanggunannya.

Setelah menikmati dua lagu, kami pun berniat ingin mengakhiri hari ini. Kami kembali ke Raffless Place MRT Station, dan memutuskan kembali ke Changi Airport untuk istirahat. Setibanya di Changi Airport, kami mengambil tas yang kami titipkan di baggage left dan lalu bersantai-santai sambil menikmati internet yang disediakan melalui WiFi gratis di dekat pintu keluar public area terminal 2. Mata kami mulai memerah akibat AC yang sangat dingin dan fisik yang mulai drop. Saat bandara mulai sepi, kami mencoba untuk tidur diatas kursi yang disediakan berjajar didepan Swensens. Kami mencoba merebahkan badan, tapi sepertinya usaha untuk itu tidak bertahan lama karena kursi yang menjadi alas badan kami berbentuk cekung, sehingga saat kami merebahkan bada akan terasa sakit di punggung apabila posisinya tidak pas. Saat tengah malam, masih ada beberapa orang yang lalu lalang disekitaran public area terminal 2, entah mereka hanya jalan-jalan berwisata ke Changi Airport atau menanti panggilan penerbangan mereka. Ada pula yang ikut bersama kami merebahkan badan mereka diatas ketidak nyamanan kursi pengunjung yang berjajar tersebut.

Yahh… Sekian dulu cerita hari pertama. Nantikan cerita selanjutnya Hari 2 di Pattaya.

 

Salam, dari wajah kumus-kumus kami setelah jalan-jalan seharian dan belum mandi (lebih tepatnya tidak mandi) ditemani gedung MBS yang menjulang dibelakang kami.

 

 

 

 


Album foto yang lebih lengkap, silahkan kunjungi halaman Facebook saya atau https://imgur.com/a/sayxw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *