Hari 7: Street Food Craving @Bangkok (2D SINGAPORE + 6D THAILAND TRIP)

This is our last trip in Thailand for this season, karena keesokan harinya kami akan meninggalkan Thailand.

So… Hari itu kami bangun pagi-pagi karena rencana kami hari ini adalah memuaskan lambung kami dengan street food Thailand yang terkenal eksotis.

Tanpa sarapan, kami langsung menuju ke stasiun BST dekat hostel untuk menuju ke Bang Na. Sesampainya di Bang Na kami langsung mencari motorbike taxi atau ojek disekitar stasiun untuk mengantarkan kami ke pelabuhan Wat Bang Na Nawk. Ongkos dari Bang Na ke pelabuhan adalah 20 Baht. Disana terdapat pelabuhan yang terhubung ke Bang Nam Phueng. Penyeberangan dilakukan dengan menggunakan ferry dengan ongkos hanya 4 Baht/person. Ferry yang digunakan tidak hanya mengangkut orang saja, bahkan beberapa motor pun ikut terombang-ambing diatasnya.  Tiba di pelabuhan Bang Nam Phueng, kami berjalan sekitar 50 meter menuju pos antrian ojek. Saya menyebutnya pos antrian ojek bukan pos pangkalan ojek, karena ojek selalu datang dan pergi, tidak ada satu ojek pun yang mangkal disana. Tiba giliran kami untuk ngojek ke tujuan pertama kami, Bang Nam Phueng floating market. Ongkos ojek dari pelabuhan menuju floating market rata-rata adalah 10 Baht (sumber dari beberapa website), tapi apesnya saya harus membayar 20 Baht sedangkan Delvo hanya membayar 10 Baht (kzl, but it’s okay!). Untuk masuk ke floating market, kami harus melalui jalan semen di pinggiran sungai. Tidak seperti floating market pada umumnya, pedagang di Bang Nam Phueng floating market tidak menjajakan dagangannya diatas perahu, tapi sudah ada tempat seperti stand. Mungkin disebut floating market karena lokasinya berada diatas bantaran sungai. Adapun alasan kami memilih Bang Nam Phueng floating market daripada floating market lainnya adalah karena mayoritas konsumennya adalah orang lokal, dari review di beberapa website mengatakan bahwa harga disana relatif murah (harga lokal), dan satu hal yang pasti adalah Bang Nam Phueng floating market is not a tourist trap! I guarantee it. Kami mencoba berbagai makanan dan minuman, mulai dari bihun babi, coconut ice cream, gac juice, dan beberapa jajanan lain yang jarang bahkan tidak ditemui di Indonesia. Souvenirs untuk oleh-oleh juga dijual relatif murah disini, dan pastinya boleh ditawar. Puas berjajan ria, kami langsung kembali menuju ke pelabuhan mengendarai ojek dengan ongkos yang sama saat kami berangkat, tapi kali ini saya cukup membayar 10 Baht saja. Ongkos penyebrangan juga masih sama, yaitu 4 Baht.

Kami kembali ke stasiun BTS untuk menuju ke tujuan kedua kami, Chatuchak. Untuk menuju ke Chatuchak kami harus turun ke stasiun BTS Mo Chit, lalu menuju ke exit 1 Chatuchak Park. Turun dari stasiun BTS, sudah berjejer beberapa pedagang kaki lima di depan pagar Chatuchak Park. Hanya berjarak sekitar 100 meter dari stasiun BTS, kami sudah sampai di Chatuchak Weekend Market. Seperti yang telah disebutkan, bahwa Chatuchak Weekend Market hanya buka saat weekend saja dan waktu kami mengunjunginya pada hari Sabtu. Chatuchak Weekend Market menjual berbagai macam pakaian, makanan, aksesoris, dan segala macam souvenirs unik yang dapat digunakan sebagai oleh-oleh. Di Chatuchak Market, Delvo membeli oleh-oleh untuk keluarga dan teman kantornya, lalu apa yang saya lakukan? menemani Delvo dan jajan (lagi), walaupun perut saya sudah cukup dipenuhi oleh tumpukan makanan di trip sebelumnya. Dari sebelum trip ke Thailand, list makanan ‘ngidam’ sudah saya buat dan ada satu yang paling ingin saya coba. Setelah cukup lama menemani Delvo beli oleh-oleh, akhirnya kami mulai memutari pasar yang penuh sesak oleh turis itu. Hingga akhirnya saya menemukan makanan yang bikin saya ‘ngidam’ yang dijual disebuah warung. Ketan susu yang diberi irisan manga diatasnya, mango sticky rice atau bahasa lokalnya khao niew mamuang itulah sebutannya, rasanya mak nyus dan buat pingin nambah terus, tapi apa daya perut sudah tidak muat lagi. Setelah ‘ngidam’ sudah terpenuhi, kami lanjut memutari kedalaman pasar, hingga kami menemukan toko yang menjual sabun berbentuk unik yang membuat semua wanita terpesona (bahkan pria, tapi bukan kami). Kami sudah coba menawarkan oleh-oleh sabun unik itu ke sahabat-sahabat kami, tapi sepertinya mereka sungkan untuk mau menerimanya. Setelah sekitar satu hingga dua jam kami memutari pasar, kami putuskan untuk menyudahinya dan lalu menuju ke Chatuchak Park untuk rehat.

Setelah cukup lama rehat, kami kembali berjalan ke stasiun BTS untuk menuju ke tujuan terakhir kami, Khao San Road. Khao San Road merupakan jalan raya atau area surga backpacker yang berkunjung di Thailand. Kenapa begitu? Khao San Road banyak menyediakan penginapan murah, lokasinya pun tidak jauh dari sungai Chao Phraya dan landmark-landmark di Bangkok, adapun turis dapat menemukan berbagai macam hiburan siang maupun malam disana. Tapi ada juga kontranya, harga makanan di Khao San Road relatif lebih mahal (jika saya bandingkan dengan harga makanan di dekat penginapan saya) dan belum terjangkau BTS. Untuk menuju ke Khao San Road, kami turun di stasiun BTS Victory Monument, lalu mencari bus menuju ke Khao San Road. Bus menuju Khao San Road berhenti di halte dekan rumah sakit Rajavithi dengan nomor bus 157, 171, dan 509 (sumber: http://www.bangkok.com/area-khao-san-road/review.htm). Hingga satu jam, bus yang kami nantikan tak kunjung datang. Kami pun sudah mulai menyerah dan berdiskusi untuk menggunakan moda transportasi lainnya, yaitu taksi yang pastinya dengan biaya lebih mahal. Tapi kami tetap kekeuh menunggu di halte, hingga bus 114 atau 157 (saya lupa) datang. Kami segera masuk, dan membayar sekitar 40 Baht untuk menuju ke Khao San Road. Perjalanannya cukup lama mengingat jalan yang dilalui sangat padat dan cukup macet. Sekitar 40 menit kemudian, akhirnya bus tiba. Kami turun di halte yang cukup jauh dari Khao San, sehingga kami harus mengeluarkan tenaga lebih untuk berjalan kaki. Khao San Road disiang hari cukup tenang, walaupun cukup dipenuhi oleh turis mancanegara (terutama turis barat). Tidak banyak yang kami coba, hanya lumpia, kebab, dan satu makanan yang ada di wishlist saya, KALAJENGKING. Sales-sales menawarkan kalajengking dengan harga yang cukup mahal seekornya. Awalnya mereka akan menawarkan seharga 200 Baht, setelah tawar menawar akhirnya saya membeli satu ekor kalajengking goreng dengan harga 50 Baht. Satu kalajengking goreng kami bagi berdua, 25% untuk saya (bagian ekor dan 1 capit) dan sisanya terpaksa harus dilahap Delvo (sedih lah). Kami pun saling memotret reaksi satu sama lain saat menikmati kalajengking. Berbeda dengan bayangan aneh saya, ternyata kalajengking goreng hanya terasa crispy kulit atau cangkangnya saja, tidak ada rasa aneh, jeroan kalajengking, ataupun lendir hijau seperti yang ada dipikiran saya. Kami lanjutkan perjalanan kami menuju gang-gang disekitar, banyak terlihat jasa Thai massage dipinggir-pinggir jalan. Kami pun langsung menuju ke pelabuhan di pasar Banglamphu dan menyudahi perjalanan kami hari itu.

 

P.S.: Maaf fotonya kurang jelas, karena kami hanya menggunakan kamera handphone saja

 


Album foto yang lebih lengkap, silahkan kunjungi halaman Facebook saya atau https://imgur.com/a/sayxw

Hari 6: Landmark @Bangkok (2D SINGAPORE + 6D THAILAND TRIP)

Hari ini adalah hari yang kami khususkan untuk menjelajahi dua destinasi yang merupakan icon kota Bangkok, yaitu Wat Pho, Wat Arun, dan Wat Phra Kaew atau Grand Palace. Ketiga wat tersebut lokasinya saling berdekatan sehingga dapat ditempuh dalam sekali jalan. Pengunjung dapat menuju kesana dengan menggunakan ferry yang ada di sungai Chao Phraya. Pier utama di Bangkok bernama Sathorn yang dekat dengan stasiun BTS Saphan Taksin sehingga merupakan pier yang paling mudah diakses. Ada berbagai macam pilihan kapal menuju Wat Arun, dari kapal lokal, kapal dengan bendera, hingga kapal express untuk wisatawan atau tourist boat yang bernama Chao Phraya Express. Harganya pun pasti berbeda, Chao Phraya Express mematok harga THB 40 sekali jalan, sedangkan kapal lainnya pasti lebih murah. Rutenya pun berbeda, Chao Phraya Express berhenti di pier-pier yang dekat dengan tujuan utama wisatawan (seperti Yaowarat atau Chinatown, dan ketiga wat yang telah disebutkan), kapal lokal lebih menjangkau seluruh pier, kapal dengan bendera berhenti di beberapa rute tergantung warna benderanya. Saat itu kami memilih Chao Phraya Express, karena kami belum mengenal rute kapal-kapal lainnya (dari pada tersesat).

Tujuan pertama kami adalah Wat Arun atau Temple of Dawn, kuil yang dari kejauhan terlihat berwarna putih menjulang indah dan dikelilingi empat pagoda yang berukuran lebih kecil. Untuk menuju ke Wat Arun, kami berhenti di Tha Tien lalu menyebrang dengan kapal khusus penyebrangan disana dengan kocek THB 3 saja perorangnya. Tiket masuk dijual seharga THB 100, cukup fair dengan service pemandangan luar biasa yang ditawarkan. Namun, saat itu cukup banyak wisatawan disana sehingga kami cukup melihatnya dari luar saja tanpa masuk ke dalam kuil. Kami hanya singgah beberapa menit saja hanya untuk mengambil foto dan melihat keadaan sekitar. Saat itu memang kuil utama sedang direnovasi, terlihat besi dan tali masih menghiasi tembok luar kuil utama yang megah. Setelah puas berputar dan mengabadikan gambar, kami kembali menyebrang ke Tha Tien dan berjalan menuju ke Wat Pho yang dapat ditempuh hanya sekitar 10 menit dengan jalan kaki.

Jalan menuju Wat Pho terlihat padat dengan kendaraan besar hingga kecil, tetapi memang jalan akses kesana cukup sempit. Terdapat dua orang yang berjaga di tiket masuk, loket sebelah kiri hanya menerima uang pas, loket tengah bisa menerima uang besar, sedangkan loket kanan kosong tiada penghuni. Wat Pho merupakan wat yang terkenal dengan patung Buddha emas raksasa yang sedang berbaring, membuat kuil ini disebut dengan Temple of the Reclining Buddha. Selain itu, wat ini sangat luas dan terdapat beraneka ragam patung dan jenis pagoda dan kuil, sehingga dengan biaya masuk seharga THB 100 dapat membuat mata melotot, mulut melongo, dan kaki pegal saat berkeliling didalamnya. Adapun didalam telah disediakan peta beserta keterangan spot-spot yang ada didalam Wat Pho yang disajikan dalam berbagai bahasa. Juga pengunjung dapat menukarkan sepucuk bagian tiket yang telah dibeli dengan sebotol air mineral 350ml.

Setelah puas dan capek berkeliling di Wat Pho, tujuan selanjutnya adalah Wat Phra Kaew atau Grand Palace atau Temple of the Emerald Buddha. Cukup jalan kaki selama 10 menit untuk sampai ke pintu masuk Grand Palace. Jalan menuju Grand Palace sangat luas dan indah, ada berbagai macam patung dan bangunan yang menarik untuk dijadikan objek fotografi. Sesampainya di Grand Palace, terlihat antrean turis yang cukup panjang menuju ke loket penjualan tiket. Tiket masuk Wat Phra Kaew cukup mahal, dengan harga THB 500 pengunjung dapat berkeliling di dalam Grand Palace yang luaaasss sekali dan dipersilahkan masuk ke dalam museum-museum yang ada didalamnya secara gratis. Sebelum masuk, kami mengunjungi museum sejarah kerajaan Thailand terlebih dahulu. Didalamnya terdapat pelbagai macam barang dari senjata, koin, teko, pakaian, hingga foto raja-raja yang pernah memerintah Thailand. Keluar dari museum, kami langsung masuk menuju Wat Phra Kaew. Kami disambut tiga pagoda yang tinggi besar dan berjajar dengan bentuk yang berbeda satu dengan yang lain di sebelah kiri pintu masuk. Area Grand Palace dibagi menjadi empat blok, yaitu blok kuil-kuil yang menyambut wisatawan saat pertama kali masuk ke Grand Palace di bagian barat, dibagian utara terdapat blok istana, dibagian timur terdapat komplek bangunan-bangunan ala Eropa dan kompleks Food and Beverages, dan dibagian selatan merupakan pintu masuk dan keluar yang telah kami lewati. Di blok istana terlihat tentara-tentara yang berjaga di setiap sudut istana. Tampang mereka tampak kaku dengan ekspresi yang datar dengan tambahan aura tegas yang dipancarkan dari seragam prajurit yang mereka kenakan. Banyak wisatawan yang memposisikan diri mereka di sebelah prajurit yang berjaga tersebut untuk berfoto. Alih-alih menolak atau bahkan mengusirnya, si prajurit tetap diam tegap dengan ekspresi datarnya. Dibagian bawah istana terdapat museum senjata, tanpa berlama-lama kami langsung menuju kesana karena itu fetish kami sebagai laki-laki dan gamer (AHAHAHAHA). Kami lanjutkan perjalanan menuju ke timur untuk mencari setetes air minum karena kami telah menghabiskan jatah air minum kami akibat dari cuaca yang cukup panas siang itu. Lalu dilanjutkan dengan keluar dari Grand Palace. Sebenarnya di tiket masuk Grand Palace terdapat sebuah tiket selingan untuk suatu show, tapi kami tidak menemukannya. Kami dan sepasang bule juga sudah menanyakan ke petugas yang berjaga disana, namun mereka pun sepertinya juga tidak tahu. Oh ya, petugas dan penjaga di Grand Palace rata-rata mampu berbahasa Inggris, jadi cukup mudah untuk bertanya-tanya disana.

Sore itu kami sudah cukup lelah setelah berkeliling ke tiga wat yang luas dengan cuaca panas terik yang diselingi sedikit mendung di siang hari. Kami pun memutuskan untuk mengakhiri jalan-jalan itu. Kami berjalan kaki menuju ke Tha Chang pier yang cukup dekat dengan Grand Palace. Kami kembali ke Sathorn dengan Chao Phraya Express karena kami ingin cepat pulang ke hostel dan beristirahat. Kami mengurungkan niat kami menuju ke Asiatique yang merupakan surga shopping dengan night bazaar dan mallnya.

 


Album foto yang lebih lengkap, silahkan kunjungi halaman Facebook saya atau https://imgur.com/a/sayxw

Hari 5: Bike Tours @Ayutthaya (2D SINGAPORE + 6D THAILAND TRIP)

Pagi jam 6 kami sudah mempersiapkan diri kami untuk berpetualang ke salah satu tujuan yang wajib dikunjungi ketika hijrah ke Thailand, Ayutthaya. Ayutthaya adalah kota bersejarah yang berlokasi di utara kota Bangkok. Ada dua sarana transportasi yang paling umum digunakan untuk menuju ke Ayutthaya dari Bangkok, yaitu kereta api dan minibus walaupun lebih terlihat seperti minivan. Kami lebih memilih naik kereta api karena harga yang jauh lebih murah dari minivan dan pemandangan yang lebih menyegarkan mata karena rute kereta api melewati pemukiman dan persawahan.

Sebelum ke Ayutthaya kami sudah merencanakan untuk mengunjungi Bang Pa-In Royal Palace atau Summer Palace terlebih dahulu. Oleh karena itu, kami membeli tiket stasiun Hua Lamphong menuju stasiun Bang Pa-In seharga THB 12 untuk kelas ekonomi (murah bukan?). Kereta itu berangkat pukul 7 pagi dan diperkirakan tiba ke Bang Pa-In pada pukul 8. Gerbong kereta yang kami naiki cukup bersih dengan tempat duduk yang berformasi 2-3 x 7 baris. Tentunya kami memilih tempat duduk yang dekat jendela agar dapat melihat pemandangan disepanjang perjalanan.

Rute kereta api dari Hua Lamphong menuju Bang Pa-In melewati bandara Don Muaeng. Saat menunggu keberangkatan kereta di dalam gerbong, kami melihat dua bule yang kebingungan dan bertanya kepada penumpang lokal dengan menunjukkan tiket menuju Don Muaeng dan boarding pass pesawatnya. Ternyataaa… Tujuan airport mereka salah, seharusnya pesawat mereka menunggu di Suvarnabhumi bukan di Don Muaeng. Alhasil, mereka pun langsung berlari keluar dari gerbong kereta dengan menyeret koper besar mereka karena mungkin untuk mengejar pesawat karena jarak Hua Lamphong ke Suvarnabhumi yang jauh (sekitar 30-40 menit dengan menggunakan BRT, apalagi saat itu adalah rush hour).

Kereta yang kami tumpangi pun akhirnya berangkat, kereta sempat berhenti di tengah rute. Saat berhenti itu, terlihat sebuah jalan kecil di sebelah sepanjang rel kereta api. Disana terlihat penduduk lokal, penjual makanan dan minuman, dan biksu dengan kain lenan berwarna oranyenya. Terlihat dua orang biksu masuk ke dalam gerbong yang kami naiki, seorang yang terlihat lebih tua mendatangi kami dan berbicara dalam bahasa Thai yang pastinya tidak kami mengerti. Lalu seorang lainnya yang lebih muda memanggilnya untuk duduk di tempat yang memang telah diprioritaskan untuk orang dengan handicap dan biksu. Setelah kami cerna, sepertinya biksu itu ingin duduk di kursi yang kami duduki dan kami tidak beranjak karena kami tidak tahu apa yang dia katakan (maaf biksu, awake dewe ora mudeng).

Akhirnya kereta kami tiba di stasiun Hua Lamphong, apesnya kami tidak sadar kalau itu Hua Lamphong. Kami baru sadar ketika kereta mulai berjalan dan kami pastikan dengan Google Maps. Ya mau tidak mau, kami harus dengan tegar hati mengurungkan niat kami menuju Summer Palace dan langsung cus ke Ayutthaya. Di perjalanan, kami kembali membaca review-review tentang Ayutthaya, kami mendapatkan informasi bahwa untuk mengelilingi seluruh destinasi di Ayutthaya tidak cukup hanya dengan setengah hari saja, sehingga para traveller pendahulu lebih menyarankan untuk fokuskan satu hari di Ayutthaya saja, tidak perlu mengunjungi Summer Palace. Melihat review itu, saya merasa cukup lega tapi juga sedikit tidak percaya.

Setibanya di Ayutthaya, kami langsung keluar menuju stan makanan yang berada tepat di seberang stasiun karena perut kami sudah berontak. Setelah itu kami menuju persewaan sepeda yang berada di gang seberang stasiun dan disebelah stan makanan. Kami cukup menyewa sepeda karena harga yang relatif lebih murah untuk dua orang saja, apabila travelling dalam satu grup yang berjumlah sekitar lima orang atau lebih, lebih baik menyewa jasa tuk-tuk yang dapat mengantarkan ke semua destinasi, tapi yang harus diingat adalah DON’T FORGET TO BARGAIN!. Pemilik persewaan sepeda menawarkan dua jenis sepeda yaitu sepeda trek seharga THB 100 dan sepeda onthel seharga THB 50. Perbandingan harganya cukup signifikan, karena memang beda kualitasnya. Sepeda trek dapat mengganti gear sehingga memudahkan jika saat jalan tanjakan, namun sepeda onthel juga memiliki keranjang di bagian depan stang kemudi sehingga tidak perlu terus mengangkat tas yang berat selama perjalanan. Kami memilih sepeda trek agar lebih nyaman saat perjalanan, tapi nyatanya tidak senyaman itu karena saya membawa tas yang cukup berat (kamera, air minum, payung, dan lain-lain). Si pemilik persewaan memberikan peta wisata Ayutthaya yang telah dinomori berdasarkan jarak yang ditempuh dari stasiun. Dia juga memberi tahu bahwa kita dapat menaiki kapal di seberang gang, atau gowes mendaki jembatan dengan sepeda yang lebih capek namun sehat. Bule-bule yang menyewa sepeda mayoritas lebih memilih menyebrang lewat jembatan, tidak mau kalah kamipun juga ikut menyebrang lewat jembatan.

Kami berencana bergerak mengikuti nomor yang tertera di peta yang diberikan. Di tengah jalan di persimpangan, seorang bule cowok mendekati kami untuk menanyakan rute yang sama dengan kami menuju ke nomor satu yaitu Wat Mahathat. Kami menunjukkan arah kepadanya, yang beberapa detik kemudian kami menyadari bahwa arah yang kami tunjukkan salah (maaf mas bule). Setibanya di Wat Mahathat, kami tengok kiri kanan untuk mencari mas bule yang kami sesatkan tadi untuk meminta maaf, tapi tidak ketemu, ok lanjut saja ke loket tiket masuk. Tiket yang dijual ada dua jenis, yaitu single trip untuk satu wat saja atau paket untuk lima wat. Paket untuk lima wat lebih murah dibandingkan tiket single trip dikali lima, kami beli saja tiket paket untuk dua orang. Tidak lama setelah masuk, kami melihat mas bule tadi yang sepertinya dia sudah lupa wajah kita, AMAANNN.
Berikut adalah urutan destinasi gowes kami:

  1. Wat Mahathat, yang merupakan wat yang terkenal dengan patung kepala Buddha yang tertanam di akar pohon tua
  2. Wat Ratchaburana, yang berada diseberang Wat Mahathat
  3. Wat Thammikarat, yang terkenal dengan stupa yang dikelilingi singa-singa dan patung naga berkepala tujuh dikaki tangga menuju kuil
  4. Wat Phra Sri Sanphet, merupakan kuil terpenting di Ayutthaya yang terletak di Grand Palace (http://www.ayutthaya-history.com/Temples_Ruins_PhraSisanphet.html)
  5. Wat Phra Ram, wat yang terletak di dekat danau
  6. Wat Chai Wattanaram, wat yang terletak diujung barat daya Ayutthaya yang merupakan daya tarik utama turis yang berkunjung ke Ayutthaya
  7. Wat Panan cherng, yang memiliki patung Buddha berjejer dengan dibalut kain berwarna kuning
  8. Wat Yai Chai Mongkol, dengan taman yang indah, kuil yang sangat tinggi, dan Buddha yang terbaring dengan dibalut kain berwarna kuning

Bentuk dan suasana disetiap wat yang kami kunjungi kurang lebih sama satu dengan yang lain. Setiap wat juga memiliki keunikannya masing-masing. Hampir semua wat yang kami kunjungi terlihat puing-puing bangunan sejak jaman kerajaan Siam yang telah direstorasi. Disetiap spot destinasi tertancap papan peringatan dan peraturan untuk seluruh pengunjung, salah satunya larangan memindahkan satu batu pun disana. Ayutthaya yang dulunya pusat kerajaan Siam memang merupakan tujuan recommended untuk belajar sejarah Siam dan sebagai surga panorama bagi fotografer.
Semua destinasi kami lalui dengan gowes, itulah best moment saya selama di Thailand. Total waktu yang kami tempuh berputar-putar mengelilingi Ayutthaya memakan sekitar delapan jam dengan jarak kurang-lebih 20km, dan itu semua perjalanan kami hanya menggunakan sepeda. MAKIN KURUS, MAKIN HITAM, KAKI PEGAL, tapi WONDERFUUUULLLL itulah pengalaman singkat yang mewakili perjalanan kami ke Ayutthaya. Kami kembali menuju stasiun Ayutthaya pada pukul enam sore, dan membeli tiket kereta kembali ke Hua Lamphong yang berangkat pada pukul tujuh. Saat di stasiun lah terlihat kulit Delvo yang menjadi lebih gelap eksotis dengan garis yang masih putih di wajahnya karena dilindungi kacamatanya. Untungnya selama mengelilingi Ayutthaya saya selalu memakai sunblock yang saya apply setiap empat jam, sedangkan Delvo tidak mau mengoleskan pada kulitnya. Kami tiba di Hua Lamphong sekitar pukul setengah sembilan malam.

CAPEK? PASTI… TAPI INI ADALAH MOMEN TERBAIK SAYA SELAMA TAHUN 2016 (yay!)

 


Album foto yang lebih lengkap, silahkan kunjungi halaman Facebook saya atau https://imgur.com/a/sayxw

Hari 4: A Quick Trip @Bangkok (2D SINGAPORE + 6D THAILAND TRIP)

Kami telah memasukkan sebagian barang bawaan kami ke dalam tas pada malam sebelumnya. Alarm handphone membangunkan saya pada pukul delapan pagi, ya cukup siang karena agenda kami di Pattaya sudah habis. Agenda kami hari itu hanya kembali ke Bangkok dengan bus dan jalan-jalan hingga petang disana. Setelah bersiap-siap, kami awali pagi itu dengan mencari sarapan disekitar Jomtien beach. Kami menerawang menu-menu yang disajikan di depan kedai dan depot di sepanjang pinggiran jalan namun tidak ada yang cocok, hingga akhirnya Delvo melihat penjual mie gerobak di depan sebuah toserba. Kami parkir motor yang kami kendarai di depan toserba dan memesan sarapan kami. Rata-rata harga makanan di Pattaya adalah sekitar 40 hingga 50 THB dengan rasa yang menurut saya kurang maknyus, tapi mie bihun dengan topping kulit dan daging (sepertinya babi) yang melimpah yang disajikan ibu dibelakang gerobak itu benar-benar maknyus dengan hanya 20 THB saja. Setelah kenyang kami langsung kembali ke hostel untuk mengambil barang-barang kami dan check out.

Pada saat kami check out, pihak hostel juga memeriksa kondisi sepeda motor yang kami sewa terutama bbm harus full. Setelah beres kami langsung keluar untuk mencari songthaew di sekitar hostel, beruntungnya Mr. J akan keluar dengan mobilnya menuju rumah sakit di dekat terminal bus. Mr. J menawari kami untuk menumpang di mobilnya dengan membayar 100 THB untuk kami berdua. Kami terima saja tawarannya, karena biaya yang kami habiskan apabila mengendarai songthaew hampir sama dengan harga yang ditawarkan Mr. J. Selama 15 hingga 20 menit di dalam mobil, kami mengobrol banyak hal, mulai dari alasan Mr. J tidak mau mengunjungi Indonesia lagi, membicarakan tentang pemerintahan Thailand, hingga topik yang sensitif bagi masyarakat Indonesia, yaitu AGAMA. Dia juga bercerita tentang pengalamannya di Indonesia pada tahun 1992, lalu hal-hal yang dia lakukan setelah dia keluar dari Indonesia, hingga kepercayaan dan orientasi seksualnya. Setibanya di terminal bus, kita berpamitan dan lalu dia berucap “Jangan lupa review ya… Kalian juga boleh mengatakan saya gila atau apa pun”, kami merespon ucapannya dengan cengiran lembut dan cabut menuju loket pembelian tiket. Tujuan pemberhentian kami di Bangkok adalah terminal bus Ekkamai karena dekat dengan stasiun BTS (monorail yang hanya ada di Bangkok). Tiket bus Pattaya – Ekkamai dijual seharga 130 THB dengan waktu tempuh kurang lebih satu hingga satu setengah jam (tergantung lalu lintas). Bus datang setiap 30 menit, jadi kami tidak khawatir tertinggal bus. Pada tiket bus sudah tertera nomor tempat duduk dan penumpang dapat menitipkan barang bawaannya pada bagasi.

Setibanya di Ekkamai, kami langsung keluar menuju stasiun BTS. Kami sempatkan mengisi perut kami di kedai dekat jalan keluar terminal Ekkamai, dan baru menuju ke stasiun BTS. Tiket BTS yang kami beli adalah tiket single journey untuk rute Ekkamai menuju Bang Chak, dimana hostel yang telah kami booking dari Booking.com berada. Sial kami, ternyata Bang Chak cukup jauh dari destinasi-destinasi yang telah kami rencanakan, sehingga biaya yang kami keluarkan untuk transportasi menggunakan BTS cukup membengkak. Setibanya di Bang Chak kami langsung mencari lokasi hostel kami yang ternyata berada di gang yang cukup dalam. Setelah check in kami diantar menuju ke kamar kami oleh pemilik hostel. Kamar berada dilantai dua, ukurannya tidak terlalu luas, lantainya terbuat dari kayu sehingga cukup memberikan suasana sejuk, ada dua toilet dan dua kamar mandi untuk sharing berukuran kecil berada di seberang kamar, dan tepat diluar kamar terdapat meja makan dan wastafel. Ya, cukup worthed, namun tidak se-worthed hostel di Jomtien.

Tidak seperti kartu EZLink untuk transport di Singapore, BTS hanya menyediakan single journey ticket, one day pass seharga, dan 30 days pass saja. Biaya tiket untuk single journey dibanderol seharga 10 hingga 52 THB tergantung jarak yang ditempuh.  BTS selalu ramai dan dipenuhi oleh penumpang, terutama saat rush hour pada pagi hari dan saat jam pulang kerja (sekitar jam empat hingga lima sore), karena itu lebih baik hindari jam-jam tersebut.

Setelah bongkar-bongkar tas dan mempersiapkan barang, kami langsung keluar untuk menuju ke destinasi pertama kami, Jim Thompson House. Kami berjalan menuju ke stasiun Bang Chak, lalu disana membeli tiket menuju National Stadium. Keluar dari stasiun National Stadium, kami mengikuti petunjuk Google Maps menuju sebuah gang dimana tujuan kami berada. Sesampainya di Jim Thompson House, kami menuju loket pembelian tiket dan membelinya seharga 150 THB per orang. Di loket itu kami disuguhi pilihan tour berdasarkan bahasanya, tentu saja kami pilih tour dalam bahasa Inggris. Sistem tour disana terbilang sangat terstruktur, pengunjung dibagi menjadi beberapa grup berdasarkan bahasanya, saat itu kami dilibatkan dalam grup F. Seorang pemandu wanita datang dengan membawa papan petunjuk nama grup, dan meminta pengunjung dalam grup tersebut untuk berkumpul kepadanya. Dia lalu menjelaskan ketentuan-ketentuan tour, antara lain: tidak boleh mengambil foto saat di dalam rumah, tas harus dititipkan ke dalam loker yang telah disediakan, tidak boleh mengenakan alas kaki (sandal/sepatu) di dalam rumah, dilarang menyentuh bahkan memindahkan barang-barang disana. Awalnya kami diajak berjalan melewati taman dengan tumbuhan-tumbuhan dan kolam ikan yang berbentuk vas menuju ke loker penitipan tas. Setelah semua tas pengunjung dimasukkan ke dalam loker, kami diajak menelusuri bagian luar rumah terlebih dahulu, dan baru dilanjutkan masuk ke dalam rumah. Di luar rumah terlihat berbagai macam ornamen. Di dalam rumah juga terdapat berbagai macam koleksi, foto, keramik, dan furnitur yang dimiliki dan digunakan oleh Jim Thompson semasa tinggalnya disana. Si pemandu juga menjelaskan kehidupan Jim Thompson dan saat-saat dimana Jim Thompson menghilang. Selama sekitar satu setengah jam tour kami tidak mengambil foto satu pun, karena kami tidak ingin melewatkan informasi yang disampaikan oleh pemandu tentang Jim Thompson, rumah, dan perabotnya. Barulah setelah tour selesai kami diijinkan untuk berkeliling, namun tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah.

 

Setelah selesai berkeliling di rumah Jim Thompson, kami berjalan melihat kanal di belakang rumah dan dilanjutkan menuju Siam untuk mengunjungi MBK. Kami berdua bukan tipe pria shopping, jadi kami hanya melihat-lihat saja disana. Saya ingin mencoba kue lekker yang dijual di stand-stand di lantai atas MBK, dan Delvo ingin mencicipi juicy-nya daging burger di Burger King. Kami akhiri perjalanan kami hari itu dan kembali ke hostel dan mencicipi kue lekker yang kami beli.

 

Info tentang Jim Thompson Hose dapat dilihat di http://www.jimthompsonhouse.com/

Info rute dan harga BTS dapat dilihat di http://www.bts.co.th/customer/en/02-route-current_new.aspx

 

Hari itu saya hanya mengambil gambar di Jim Thompson House saja, karena yang lain memang tidak terlalu catchy bagi saya.

 


Album foto yang lebih lengkap, silahkan kunjungi halaman Facebook saya atau https://imgur.com/a/sayxw

Hari 3: @Pattaya Day & Night (2D Singapore + 6D Thailand Trip)

Pagi itu, alarm yang saya setel pada pukul tujuh menyambut dengan suaranya yang ricuh. Saya terbangun dan mulai meregangkan otot yang kaku dengan sedikit senam, sedangkan Delvo yang telah terbangun atret menuju pulau kapuknya. Setelah badan mulai segar, saya langsung mandi dan bersiap-siap untuk memulai full day trip kami di Pattaya, lalu dilanjutkan Delvo yang mulai melek dengan matanya yang merah karena (mungkin) iritasi sejak pagi hari di Singapore. Hari itu kami menetapkan tiga destinasi utama Pattaya yang akan kami kunjungi, yaitu Nong Nooch pada pagi hari, The Sanctuary of Truth pada siang hari, dan Pattaya Night Market pada malam hari. Setelah kami menjadi ganteng, sekitar pukul setengah sembilan kami langsung cabut dari hotel menuju destinasi pertama kami, Nong Nooch Botanical Garden.

Perjalanan menuju Nong Nooch dari hostel memakan waktu sekitar satu jam dengan mengendarai motor. Pagi itu, jalanan menuju Nong Nooch sangat sepi, hanya terlihat beberapa kendaraan saja yang melintas. Awalnya kami ingin sarapan di warung-warung pinggiran jalan yang kami lintasi menuju Nong Nooch, tapi kami tidak menemui warung yang cocok hingga kami tiba di Nong Nooch, alhasil kami melupakan sarapan dan tancap gas menuju tujuan kami saja. Pepohonan yang rindang dengan tatanan vas-vas tanah liat yang ditumpuk-tumpuk di sepanjang jalan menuju loket pembelian tiket memberikan suasana yang natural, sejuk, dan damai. Tiket masuk in-site dijual seharga THB 500 untuk turis asing, harga yang cukup mahal. Setelah melalui loket pembelian tiket, kami mengunjungi site pemancingan ikan berukuran besar berjenis Arapaima di Lakeside Villa. Disana telah disediakan tongkat pancing yang ditempel di pagar pembatas kolam. Pengunjung dapat memberi makan Arapaima melalui tongkat pancing, namun diperlukan umpan ikan kecil sebagai umpannya. Kabar baiknya umpan itu disediakan di stan disebelah pagar pembatas, kabar buruknya itu tidak gratis. Karena tidak gratis, jadi kami lanjutkan saja menuju taman diseberang jalan yang dihiasi vas-vas tanah liat yang dibentuk menyerupai wajah-wajah yang unik, patung, dan taman dengan air mancurnya, yaitu Garden Villa dan Club House. Setelah puas berfoto ria disana, kami kembali kendarai motor kami menuju lapangan parkir dua. Kami memasuki Mini Zoo dan Bird Aviary yang berada tepat di sebelah parkiran motor. Keluar dari sana, kami menuju ke restoran di sebelah untuk mengisi perut kosong kami. Setelah kenyang, kami perjalanan kami menuju Italian Garden, Heart-shaped Garden, dan taman lain di bagian utara. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi beragam patung-patung hewan. Ketika kami tiba di Mammoth Garden, kami berinisiasi untuk membuat sebuah quiz untuk sahabat di grup LINE. Detail quiz tidak perlu saya ceritakan, biarlah itu menjadi misteri yang hanya kami ketahui saja. Selanjutnya kami menuju Car Garden dan taman disekitarnya, saya lebih suka menyebutnya Car Museum karena dalam ruangan showroom ini menampilkan mobil-mobil segala varian dan merk yang diproduksi sejak jaman bahula hingga beberapa tahun terakhir. Setelah puas menelusuri taman bagian utara, kami mulai menelusuri taman bagian barat diawali dari French Garden yang menyajikan pemandangan tanaman yang disusun secara rapi membentuk suatu motif yang mempesona. Kami mengakhiri perjalanan kami menelusuri daerah barat di tengah Palms of the world yang sangat luas, kami sudah tidak sanggup lagi karena sudah berjalan cukup jauh dengan diselimuti sinar matahari yang menyengat. Kami kembali menuju ke parkiran melalui jalur selatan, yaitu replika Stone Henge menuju ke arah skywalk Flamingo Paradise dan Butterfly Hill hingga keluar di lapangan parkir tiga. Nong Nooch memang tempat yang tepat untuk berfoto ria, karena banyaknya objek-objek gemes yang mengundang pengunjung untuk mengabadikan gambar mereka yang sedang bergaya.

Peta Nong Nooch (sumber: http://www.zoomaps.co.uk/uploads/2/3/8/1/23819198/nayer0-page-001.jpg)
Peta Nong Nooch (sumber: http://www.zoomaps.co.uk/uploads/2/3/8/1/23819198/nayer0-page-001.jpg)
Setelah puas jalan-jalan dan berfoto ria di Nong Nooch, kami sempatkan diri mengunjungi Wat Yansangwararam. Lokasinya cukup dekat dengan Nong Nooch, hanya sekitar 10 hingga 15 menit perjalanan saja menggunakan sepeda motor. Kami mencari-cari dimana letak Wat Yansangwararam dengan mengikuti petunjuk yang ditunjukkan Google Maps dihandphone, namun tidak kunjung ketemu. Kami melihat sebuah bangunan yang tinggi berwarna putih, namun gambarnya tidak cocok dengan gambar Wat Yansangwararam yang kami lihat di website referensi. Kami lanjutkan berputar-putar mencarinya, hingga kami menemukan sebuah kuil yang sepi namun berbentuk klasik dan memberikan nuansa seperti kuil-kuil shaolin. Kami tidak tahu apa nama kuil itu, kami hanya naik dan melihat-lihat di pelataran kuil saja karena kaki kami tidak cukup tenaga untuk menelusuri ratusan anak tangga dihadapan kami. Ditempat parkir terlihat seorang bule yang sedang memberikan anjing-anjing liar, adapun dua sejoli yang berjalan naik menuju ke kuil di puncak. Setelah stamina kami sudah teregenerasi, kami lanjutkan pencarian kami. Beberapa menit kami berputar-putar dan akhirnya menyadari bahwa bangunan tinggi berwarna putih yang sebelumnya kami temui adalah si Wat Yansangwararam. Kami pun memarkir sepeda motor dan lalu masuk ke dalam. Etika saat memasuki kuil adalah harus mengenakan celana panjang (atau minimal 3/4) dan harus mengenakan pakaian berlengan dan tertutup. Terlihat beberapa turis bermata sipit berkulit putih ditegur oleh ibu-ibu di dalam karena pakaian mereka terlalu terbuka. Ibu-ibu itu pun meminjamkan kain sarung untuk menutupi bagian-bagian yang terbuka. Di dalam Wat Yansangwararam terdapat patung-patung biksu yang terlihat seperti mumi karena bola matanya yang terlihat nyata. Adapun perahu-perahu di bagian tengah bangunan yang menyimbolkan tentang kehidupan manusia. Pengunjung dipersilahkan untuk mengabadikan gambar di dalam tanpa biaya sepeserpun.

 

Kami lanjutkan perjalanan kami menuju destinasi kedua, yaitu The Sanctuary of Truth yang menurut saya merupakan destinasi terbaik di Pattaya. Pengunjung yang masuk ke dalam The Sanctuary of Truth harus merogoh kocek yang cukup mahal untuk membayar tiketnya, yaitu 500 THB. Tiket tersebut sudah termasuk pertunjukkan kebudayaan Thailand dan jasa pemandu dalam beberapa bahasa, oh ya juga stiker kuning bertuliskan nomor urut yang bisa dijadikan sebagai souvenir. The Sanctuary of Truth merupakan kuil yang terbentuk dari kayu yang terletak di pinggiran pantai. Tidak lama setelah kami tiba di depan kuil itu, acara kebudayaan pun mulai dipersiapkan. Kami langsung duduk di kursi bagian tengah yang telah disusun di depan panggung. Seorang pria berjenggot tipis dan wanita yang cantik naik keatas panggung menunjukkan tarian mereka, lalu diikuti dengan kawan-kawannya yang lain. Setelah tarian selesai, aksi teatrikal yang mengisahkan duel pria dengan dua bilah pedang dan kayu pelindung tangan. Aksi teatrikal itu menjadi komedi ketika sang aktor mengajak penonton untuk ikut terlibat dalam peperangan itu, mereka mengerjai si ‘korban’ yang mereka culik dan penonton yang lain pun dibuat terbahak-bahak dengan aksi mereka. Pertunjukan pun berakhir dan tiba saatnya untuk sesi foto-foto bersama aktor, kami pun langsung meninggalkan lokasi itu karena memang kami tidak tertarik dan lalu menuju ke kuil kayu yang megah. Di depan kuil telah berdiri beberapa guide berbaju biru yang siap berkeliling bersama pengunjung dan memberikan informasi seputar The Sanctuary of Truth. Kami berdua mengikuti guide yang memberikan informasi dalam bahasa Inggris bersama beberapa bule. Mereka menjelaskan asal muasal, pendiri, spot foto menarik, serta keterangan tentang figur-figur yang menjadi dinding di The Sanctuary of Truth. Ekspresi yang saya perlihatkan hanyalah ekspresi kagum, terlihat setiap figur yang terbuat dari kayu itu berbeda satu dengan yang lain. Apabila dilihat dari bawah, atap kuil terlihat sangat megah dengan berbagai ukiran-ukiran yang detail. Setelah mengelilingi luar kuil, kami lanjutkan masuk ke dalam kuil. Bukan hanya diluar saja yang dipenuhi dengan figur, di dalam kuil pun juga. Mungkin kekurangannya hanya satu, The Sanctuary of Truth sampai saat kami berada disana masih dalam tahap pembangunan sehingga masih banyak besi, tali, dan bahan bangunan yang menghalangi eksplorasi kami. Selesai mengintip isi kuil, kami menuju tempat duduk yang diletakkan dibawah pohon rindang di seberang kuil. Sambil beristirahat, kami mulai berbincang-bincang dan masuk ke kancah bisnis. Waktu menunjukkan pukul lima dan matahari pun mulai turun untuk bersembunyi mengijinkan sang malam untuk hadir, bersamaan dengan itu kami memutuskan untuk mengakhiri eksplorasi kami disana dan kembali menuju hostel untuk beristirahat sejenak.

 

Pada malam hari kami kembali ngeluyur untuk memantau Pattaya Night Market yang terkenal dengan kawasan ‘Go Go Bar’-nya. Saya sengaja tidak membawa kamera karena memang tempat itu sangat sensitif terhadap kamera. Jalanan menuju Night Market sangat ramai, untuk masuk ke tempat parkir kami harus berputar blok hingga dua kali. Saat parkir terlihat seorang pria yang bertampang preman mendekati kami, dia hanya menatap kami seakan-akan ingin mengajak berantem. Saya pun ingat sebuah review yang menginformasikan bahwa di sana harus membayar 20 THB untuk ongkos parkir, lalu saya pun menanyakan “How much?” kepadanya. Awalnya dia meminta 40 THB, lalu saya tawar 20 THB saja dan dia langsung setuju. Sejauh mata memandang, di sepanjang jalan night market hanya terlihat Go Go Bars yang didepannya telah dipajang sebaris ‘wanita’ cantik yang siap melayani customernya. Adapun bule yang menawarkan permainan virtual reality kepada pengunjung-pengunjung yang datang.  Banyak laki-laki menyodorkan buku menu yang isinya bukan menu makanan, namun menu ‘pelayanan’ dan ‘wanita’ yang dipajang tadi. Kami mengacuhkan semua tawaran itu dan terus jalan saja, hingga kami melihat seorang pesulap yang kami bilang ‘Wow’. Berbagai macam trip sulap dia tunjukkan dengan berbahan rokok yang dia bawa saja, dia juga tidak mengenakan baju berlengan seolah untuk menunjukkan triknya bukanlah tipuan. Setelah pertunjukan selesai dia menyodorkan topinya untuk meminta tips dari penonton yang mengelilinginya, kami pun melanjutkan penelusuran kami. Diujung night market terlihat sebuah hotel dan bar yang paling terkenal disana, kami berkeliling sebentar di daerah itu. Menurut kami night market itu kurang menarik karena yang terlihat hanya Go Go Bars, stand VR, dan bar atau klub saja, oleh karena itu kami pun membeli kebab sebagai night snack kami lalu kembali menuju parkiran dengan melewati jalan yang sama yang telah kami lalui tadi, lalu langsung meluncur ke hostel. Sesampainya di hotel, kami mulai packing untuk perjalanan kami kembali ke Bangkok keesokan harinya dan dilanjutkan dengan jalan-jalan di alam mimpi.

 

Note: Pada bagian ini memang tidak tersedia foto Pattaya Night Market karena mengambil foto mungkin dapat mengganggu pekerja atau penduduk disana

 


Album foto yang lebih lengkap, silahkan kunjungi halaman Facebook saya atau https://imgur.com/a/sayxw

Hari 2: A Quick Welcome to @Pattaya (2D Singapore + 6D Thailand Trip)

Sekitar jam tiga subuh, saya terbangun dari tidur singkat saya. Selang jarang beberapa centimeter, terlihat Delvo yang masih tidur dengan berbantal tas yang kami bawa. Saya mencoba memejamkan mata kembali untuk mengemat daya, karena mungkin malam itu saya hanya tidur sekitar tiga jam saja, ditambah hutang tidur di malam sebelumnya. Sekitar pukul setengah empat, kami mulai bangun dan merasakan udara yang semakin dingin di public area Changi Airport. Sembari menunggu loket check in dibuka, kami berjalan-jalan di sekitaran public area dan mampir ke kedai Kaffe and Toast untuk menikmati hangatnya kopi dan gurihnya kaya toast. Setelah merasakan badan kami yang mulai hangat, kami tinggalkan kedai tersebut dan naik menuju ke loket check in.

Saat itu counter check in baru saja dibuka, tanpa antre kami langsung menuju ke petugas loket dan menyerahkan passport kami. Boarding pass telah kami dapatkan, dan akhirnya kami dapat kembali ke transit lounge yang nyaman. Tanpa ba bi bu, kami langsung berjalan menuju Gate F tepat di depan ruang tunggu pesawat kami. Kami menunggu cukup lama disana, karena memang boarding dijadwalkan pada pukul 06.10. Menjelang boarding, kami melihat tidak ada petugas yang datang untuk membukakan pintu ruang tunggu. Kami pun coba bertanya pada petugas sekitar, dan ternyata ruang tunggu kami dipindah tidak jauh dari lokasi semula. Antrean security check sudah terlihat cukup panjang, kami pun memarkirkan diri dan barang bawaan kami di paling belakang dan terus maju hingga kami masuk ke ruang tunggu. Panggilan boarding pun akhirnya terdengar, kami dipersilahkan untuk menaiki bus yang akan mengantarkan kami menuju ke pesawat. Kami pun duduk di baris ke-29, yaitu satu baris dari kuris yang paling belakang. Pesawat mulai take-off pada pukul 06.40, dan diperkirakan tiba di Suvarnabhumi Bangkok pada pukul 08.00. Saya memanfaatkan waktu perjalanan tersebut hanya untuk tidur, karena masih ada kegiatan-kegiatan yang akan saya lakukan di Pattaya.

Setibanya di Suvarnabhumi Airport, terlebih dahulu kami mengisi perut kami yang sudah keroncongan di restoran yang menyediakan beberapa masakan khas Thailand. Setelah perut kami terisi, kami beralih menuju satu lantai ke bawah untuk membeli SIM Card. Kami membeli satu SIM Card AIS yang menyediakan kebutuhan internet kami selama di Thailand. Setelah itu, kami mencari petunjuk menuju loket penjualan tiket shuttle bus yang akan kami tumpangi untuk menuju ke Pattaya. Loket shuttle bus menuju ke Pattaya berada di lantai paling bawah, tepat didepan kantin bandara. Kami pun membeli dua buah tiket yang masing-masing berharga 120 Baht dan lalu menuju keluar untuk menunggu bus datang. Bus pun akhirnya tiba, kami menitipkan barang kami untuk diletakkan di bagasi dan lalu langsung naik menuju ke kursi yang tertera pada tiket yang kami dapatkan. Penumpang bus tersebut kebanyakan bule yang mungkin sedang akan berlibur ke Pattaya. Kernet pun datang menanyakan kepada setiap penumpang tempat pemberhentian yang diingini. Penumpang bagian depan mulai menyebutkan North, Central, dan Jomtien. Saat kami ditanya, saya menjawab Central, karena tujuan awal kami menuju ke Sanctuary of Truth. Kami kembali berdiskusi tentang lokasi kami turun, dan akhirnya kami memutuskan untuk merubah tujuan kami ke Jomtien agar kami dapat meletakkan barang bawaan kami terlebih dahulu di hostel yang telah kami pesan, serta beristirahat sejenak karena kami sudah cukup ‘tepar’. Dan lagi, selama perjalanan saya hanya tidur dan tak acuh pada pemandangan jalan yang dilewati. Perjalanan dari Suvarnabhumi Airport menuju ke Pattaya memakan waktu kurang lebih satu setengah jam.

Bus kami pun akhirnya tiba di Pattaya. Kesan pertama kami saat melihat kota Pattaya adalah kota ini mirip dengan kota di Indonesia. Supir bus pun mulai berhenti di beberapa pos untuk menurunkan penumpangnya hingga tiba di pos terakhir yaitu Jomtien. Saat kami turun dari bus, kami melihat ojek dan supir songthaew (baht bus) menyambut kami untuk menawarkan jasanya. Terlebih dahulu kami ambil tas kami dari bagasi bus, lalu bertanya ke salah satu supir songthaew harga menuju ke hostel yang akan kami tinggali. Si supir songthaew menunjukkan tiga jarinya, dan saya mengkonfirmasinya dengan berkata “Thirty? Thirty?”. Si supir meresponnya dengan gelengan kepala, lanjutnya “Three hundred”, saya pun tersentak kaget dan menolak tawaran itu. Saya mencoba cek Google Maps untuk melihat arah ke hostel, dan ternyata jarak yang ditempuh cukup jauh, sekitar 20 menit perjalanan dari lokasi kami. Kami pun memutuskan untuk berjalan kaki terlebih dahulu sembari menanti songthaew yang akan meng-klakson kami untuk menawarkan jasanya. Setelah berjalan cukup jauh, tidak ada satu pun songthaew yang meng-klakson, kami pun juga mulai lelah. Di perjalanan kami melihat kedai terbuka dengan menu makanan yang cukup banyak. Kami singgah disana dan tenaga yang telah kami habiskan setelah berjalan jauh. Saya memesan pad thai dan Delvo memesan American fried rice. Setelah mengisi tenaga, kami melanjutkan perjalanan kami hingga kami memasuki gang menuju ke arah pantai Jomtien. Di sepanjang jalan di pinggir pantai Jomtien ternyata banyak songthaew lalu-lalang. Akhirnya ada sebuah songthaew yang sedang menawarkan jasanya, tanpa pikir panjang kami langsung menaiki songthaew tersebut hingga akhirnya tiba di jalan di depan gang hostel kami. Kami berikan uang sejumlah 20 Baht sebagai ongkos perjalanan dan sebagai upah karena telah menyelamatkan kami. Setelah berjalan tidak cukup jauh, hostel yang telah kami pesan pun mulai terlihat.

Sebelum kami berangkat ke Thailand, saya sudah mencari informasi tentang transportasi publik di Pattaya, dan banyak orang yang memang menyebutkan songthaew sebagai salah satu transportasi yang paling ekonomis. Adapun tambahan keterangan yang diberikan apabila ingin menumpangi songthaew, yaitu jangan mencari songthaew yang sedang parkir atau menyebutkan tujuan kita kepada supir songthaew, karena supir akan menawarkan harga yang setara transportasi private seperti layaknya taksi. Apabila ingin menumpangi songthaew, dihimbau untuk mencari songthaew yang sedang jalan saja tanpa menyebutkan arah tujuan kita. Supir songthaew yang sedang mencari penumpang akan mengklakson untuk menawarkan jasanya, dan apabila kita ingin menggunakan jasanya, kita dapat meresponnya dengan melambaikan tangan. Satu lagi saran saat kita akan menumpangi songthaew, cari songthaew yang berjalan searah dengan tujuan kita, apabila jalur songthaew sudah tidak sesuai dengan arah tujuan, maka turun saja dan cari songthaew lain yang searah dengan tujuan, memang cukup repot. Biaya yang dikeluarkan untuk menumpangi satu songthaew adalah berkisar 10 hingga 20 Baht, tergantung jarak yang kita tempuh. Menurut pendapat saya, apabila jarak tujuan kita tidak terlalu jauh dan tidak terlalu ruwet, maka songthaew adalah pilihan terbaik, tapi apabila kondisi tersebut tidak terpenuhi, mencari ojek adalah solusi yang budget-wise. Pendapat tersebut hanya berlaku jika kita tidak melakukan trip dalam grup yang cukup besar (hanya satu sampai tiga orang saja), selain itu, menyewa songthaew masih menjadi pilihan yang baik.

Saat itu sekitar pukul 13.40, kami tiba di hostel dan disambut oleh seorang bule yang sedang memasak. Dia mengarahkan kami menuju meja resepsionis, dan kami pun melakukan proses check in. Sembari proses check in berlangsung, si bule sebut saja Mr. J menanyakan asal kami, dan kami pun menjawab kami berasal dari Indonesia. Mr. J merespon jawaban kami dengan berteriak “Aduuuhhhh, Indonesia lagiiii…”, kami pun cengar-cengir mendengarnya. Sebenarnya kami pernah membaca review pengguna Agoda tentang hostel tempat kami menginap, ada seorang reviewer yang berasal dari Indonesia menyebutkan bahwa ownernya memang bisa bicara dalam Bahasa Indonesia, karena itu kami tidak terlalu terkejut mendengar teriakan Mr. J. Kami pun mulai ngobrol tentang kondisi Indonesia saat ini, berapa lama kami tinggal, dan hal-hal lainnya tentang asal muasal kami dan Mr. J. Dari situ pun kami tahu bahwa Mr. J pernah tinggal selama kurang lebih tujuh tahun di Indonesia. Setelah ngobrol cukup lama (sekitar 10 menit) kami berpamitan dengan Mr. J dan menuju ke kamar kami diantar oleh ‘mbak’ resepsionis tadi. Sesaat setelah ‘mbak’ resepsionis meninggalkan kami di kamar, saya langsung bertanya kepada Delvo “Vo, iku mau ladyboy yo?”, Delvo menjawab “Hah? mosok?”. Saya berasumsi seperti itu karena saya melihat tampangnya yang cukup maskulin dengan kumis tipis diatas bibirnya, walaupun ada rasa ketidak pastian karena perhatian saya dialihkan ke suaranya yang feminim. Yah, diskusi itu akhirnya tidak kami lanjutkan dan langsung istirahat merebahkan badan kami di kasur queen size yang empuk. Ya kami tidur pada satu kasur queen size, Anda tidak perlu berpikir negatif, karena kami (atau saya) masih straight.

Setelah beristirahat selama kurang lebih satu jam, kami memutuskan untuk keluar sambil mencicil sebagian trip kami di Pattaya. Beruntungnya, hostel menyediakan persewaan motor dengan harga yang cukup murah, yaitu 120 Baht per hari (informasi dari internet: rata-rata harga sewa motor di Pattaya sekitar 150-250 Baht). Kami langsung saja menyewa sebuah motor untuk kami gunakan selama dua hari di Pattaya. Syarat yang dibutuhkan hanya scan passport yang telah di scan saat proses check in dan biaya sewa yang dibayar dimuka. Adapun ketentuan lainnya adalah, tangki bbm motor akan diisi penuh saat kami mulai menyewa, sehingga saat kami mengembalikan juga harus terisi penuh. Mr. J pun tidak lupa menyampaikan untuk berhati-hati selama perjalanan dengan motor yang disewakan, dia juga menyampaikan bahwa jangan melanggar rambu-rambu maupun peraturan lalu lintas terutama jangan parkir sembarangan, karena sanksi yang diberikan juga sangat ketat. Kami pun menerima sarannya dengan baik karena kami tahu saat itu kami sedang tinggal di negara orang, karena itu kami selaku orang yang hanya menumpang harus mematuhi segala peraturannya. Tidak lupa saya mengambil gambar motor yang kami sewa sebagai langkah preventif apabila terjadi hal yang tidak diinginkan.

Tujuan pertama kami adalah Khao Pattaya View Point. Selama perjalanan menuju ke Khao Pattaya, kami memperhatikan perilaku pengguna jalan di Pattaya. Mayoritas pengendara memperhatikan rambu-rambu dan mematuhi peraturan lalu lintas, tidak seperti pengendara di kota-kota besar yang telah saya kunjungi di negara asal saya (maaf, ini berdasarkan fakta). Namun, sempat kami melihat anak muda yang sepertinya adalah turis bermata sipit dan berkulit putih kebut-kebutan di jalan tanpa menggunakan helm. Ada seorang polisi yang dengan sigap memberhentikan laju kendaraan mereka, dan terlihat turis tersebut menunjukkan surat-surat kepada pak polisi tersebut. Kami tancap gas saja menuju tujuan kami dengan sedikit bergunjing tentang insiden tersebut.

Setibanya di Khao Pattaya View Point, banyak motor yang telah terpakir rapi disepanjang pinggiran jalan yang telah diberi garis pembatas parkir. Kebanyakan turis yang kami lihat disana berkarateristik mata sipit dan kulit putih, hanya sedikit orang-orang barat yang kami jumpai. Pemandangan kota Pattaya dengan pantai dan lautnya yang indah menyambut kehadiran kami disana. Spot pertama di dekat parkiran motor cukup ramai, sehingga kami berjalan menuju spot yang lebih tinggi. Disana tersedia sebuah teropong berwarna merah, hanya memasukkan sebuah koin, turis dapat menikmati seluk beluk kota Pattaya melalui lensa teropong merah itu. Disana kami mengambil beberapa foto karena pemandangannya kota, pantai, dan laut yang begitu indah serta kami juga dapat melihat kesibukan di pelabuhan Pattaya. Didekat situ, ada pula monumen Kromluang Chomphonkhetudomsak yang merupakan pendiri angkatan laut Thailand. Di monumen itu, pengunjung dapat membakar dupa, meninggalkan karangan bunga, dan melakukan penghormatan.
(referensi: http://www.bangkok.com/pattaya/attractions/khao-pattaya-view-point.htm)

Setelah puas mengunjungi dan mengambil gambar di Khao Pattaya, kami melanjutkan perjalanan kami menuju destinasi kedua, yaitu Wat Phra Khao Yai yang terletak tidak jauh dari lokasi kami saat itu. Saat kami tiba disana, suasana masih cukup sepi, hanya beberapa turis saja yang terlihat. Hal pertama yang kami lihat adalah tangga yang diapit oleh naga atau ular yang memiliki banyak kepala dan patung Buddha emas yang mungkin sedang direnovasi terlihat di ujung tangga. Kami pun berjalan melewati tangga tersebut sambil mengambil gambar tangga serta ornamen disekitar. Di atas terlihat banyak patung-patung biksu emas. Setiap patung memiliki arti yang berbeda. Terlihat seorang wanita sedang melempar sesuatu ke dalam lubang yang ada di badan patung, entah apa artinya dia melakukan hal itu. Disini, pengunjung juga dapat memberikan penghormatan mereka pada patung-patung emas tersebut. Kami berdiri di dekat balkon, saat menengok kebawah, kami melihat tiga wanita berpakaian putih sedang menari atau melakukan suatu ritual. Setelah mata kami puas, kami pun kembali turun ke parkiran tempat kami memarkirkan sepeda motor sewaan itu.
(referensi: http://www.bangkok.com/pattaya/attractions/wat-phra-yai-temple.htm)

Sebelum kami pergi meninggalkan hostel, Mr. J sempat mengatakan kalau kami dapat menikmati indahnya sunset di The Sanctuary of Truth tanpa perlu membayar bea tiket masuk. Dia mengatakan kita dapat menikmatinya di sekitar jalan 13. Kami pun mencoba mencari lokasi yang Mr. J sampaikan, dan tiba di lokasi pembelian tiket The Sanctuary of Truth, namun tidak menemukan lokasi yang dia maksud. Sore itu, kami tidak membeli tiket masuk karena mengunjungi The Sanctuary of Truth sudah terjadwal pada hari kedua kami di Pattaya. Kami hanya leyeh-leyeh di depan pintu masuknya saja, lalu keluar mencoba mencari kembali lokasi yang disampaikan Mr. J. Setelah putus asa karena tidak menemukannya, kami memutuskan kembali ke hostel. Saat kami tiba di pinggir pantai Jomtien, sekitar jam enam kami melihat Jomtien Night Market yang mulai ramai. Kami pun segera kembali ke hostel, mandi dan bersiap-siap untuk mencari makan dan jajan ke Jomtien Night Market. Saya mengajak Delvo untuk jalan kaki menuju kesana, namun tempatnya cukup jauh dari hostel. Akhirnya kami menumpangi salah satu songthaew, dan turun di ujung jalan pinggiran pantai Jomtien. Banyak kedai-kedai yang menyajikan beragam menu pilihan di pinggiran pantai Jomtien, kami pun mampir ke salah satu kedai tersebut untuk makan malam. Setelah makan malam, kami melanjutkan perjalanan kami menuju night market untuk mencari jajan. Jomtien Night Market menyediakan berbagai pilihan jajanan, mulai dari buah-buahan, sayuran, beberapa varian daging, hingga makanan berat (seperti nasi). Pork ribs, onion bread, dan sate barbeque menggugah air liur untuk keluar dari mulut kami. Kami pun dengan rela hati mengeluarkan dompet, dan merogoh kocek untuk memuaskan kedagingan itu, lalu kembali ke hostel untuk menikmatinya. Dalam perjalanan ke hostel kami mampir ke sebuah toko swalayan untuk membeli persediaan air minum serta membeli dua kaleng bir Heineken. Sesampainya di kamar, kami menikmati hasil kedagingan kami. Onion bread yang kami beli sudah cukup alot karena dibiarkan terlalu lama, namun kenikmatan pork ribs dan sate barbeque membuat mulutku bergetar dan tak kuasa bilang “HUEMMMMM, JOSSSSS IKIII”. Hari itu diakhiri dengan segelas bir dingin yang menyegarkan tenggorokan kami. KANPAI!

 

 


Album foto yang lebih lengkap, silahkan kunjungi halaman Facebook saya atau https://imgur.com/a/sayxw

An Unfrogetable Experience in Balikpapan (October 25-27, 2016)

This is my first time to go to Balikpapan. My main occasion in Balikpapan is to give a presentation of my paper that I submitted to ICSITech 2016 conference at Gran Senyiur Hotel on October 26, 2016. Obviously, I will not abandon the chance to explore the beauty and delicacy of Balikpapan, so I booked my plane ticket and guest house where I will be staying one day earlier. I also have booked a motorbike that will accompany me to explore Balikpapan from Kevin Motorcycle Rental.

 

Arrival

My flight left from Yogyakarta at 07.45 (WIB) and arrived in Balikpapan at 11.40 (WITA). On my way to the departure gate, the staff of the motorbike rental send me a message to meet him across the Sepinggan Airport gateway. So, I quicken my pace, because I don’t want to waste my ‘precious’ short trip in Balikpapan. After we met, we do the procedures, filling a terms and agreements form, take a look to my ID card and driving license (C), surrender my driving license (A) as a gurantee, photo session with the motorbike, then he gives me the motorbike key and its document.  I am ready to go!

 

Exploration

I have made a list that contains some destination that I will visit during my time in Balikpapan. I always use Google Maps to direct me to my destination. My first destination is Depot Simpang Empat to fill my growling stomach. I have read some reviews about this place before, and it said that the beef with black pepper sauce and mantau was the best serving. Unfortunately, it is quite pricey, so I choose another menu, which is crab fried rice, ice tea, and a mantau. The mantau is quite good even without filling or the black pepper sauce, and the crab fried rice is tempting, though the rice rather hard to chew.

After my stomach is satisfied, I hop on to my bike and move to the next destination, Margomulyo Mangrove. I follow the directions Google Maps gives, but when I arrived in the point, I found a downtown near a river. I can see some mangrove plants on the river, but the river itself is very dirty, there are so many paper, plastics, and any other litters floating on the river. So I decided to leave that place and move to the next destination, the crocodiles farm in Teritip.

I ride my bike through the west bay, and find something interesting. There is a gigantic and vast oil refinery that managed by Pertamina. After I rode my motorbike almost 10km away from the Pertamina complex, I see the port of Balikpapan, take some photos of Pertamina ships and scenery at pantai Melawai near the port, then continue my journey to Teritip.

There are hundreds of crocodiles that occupy the conservation. The caretaker put the crocodiles in some cages and grouped them based on their sizes. I found some various kind of crocodile, but I only give my attention to the huge saltwater and gharial crocodile. The visitors must pay Rp 17,000.00 to enter the conservatory and parking fee. I just spend about 30 minutes there, and then going back to the city.

On my way to the city, I read “Pantai Lamaru” (Lamaru beach) written in a huge board on the left side of the street. Without further ado, I turn my motorbike to pass the gate. It costs Rp 20,000.00 to enter the area of Lamaru beach. There are many pine trees that placed neatly along the sandy road to the beach. After a while, the white sand, calm waves, wood and iron barriers welcomes me at the beach. To appreciate their greetings, I take out my camera from my bag and picture them respectively. Well, I really love to visit beach, so I took some times to feel the sun warms up my body and the wind gently blows towards me. After spending my time there for about one hour, I leave the beach and go to Sentosa 76 guest house to rest my weary body. When I check in for the reservation, they costs me Rp 50,000.- as deposit fee for the room key.

After taking a short nap, I clean my body and hunt for the sunset. How lucky I am, there is a hill that serves a beautiful scenery of Balikpapan city with blue sea and orange sky as the background. That’s only a fraction that Balikpapan serves during sunset. So, I quickly ride my bike to pantai Melawai to capture the sunset, beacuse I don’t want to miss the glorious moment. And hope never fails, I see an awesome panorama of sunset there. I’m just thank God for I still have a chance to see those view with my very own eyes, and obviously take some picture of it.

 

The Conference

This is the main purpose of my trip to Balikpapan. From this event, I will get my sertificate of publication of my paper as a requirement for my Master Degree in Universitas Atma Jaya Yogyakarta. The event starts at 07.00, and my presentation will begin at 11.20. During the first session of the event (opening speeches and keynote speaker sessions), I’m not feeling well. The temperature is really low, it makes my eyes heavy and I’m dazed. That condition still remains until the parallel session or presentation session begins. The presentation last for almost 15 minutes, and followed by question and answer time. A presenter from Thailand and a participant from Indonesia asking me a question about the presentation. Praise God, I still can answer those questions even though I’m feeling dizzy. After the presentation, I go back to the ballroom to get lunch and then continue the keynote speakers session.

 

The Curse

After the keynote speakers session ends, I leave the rest of the schedule and will be back when the gala dinner starts. I come back to the guest house, change my clothes, and ride my motorbike to explore Balikpapan more, and when I’m on my way back to guest house, ‘the curse’ begins. When I ride my bike, a man shout to me “Mas dompetnya jatuh!” (“Hey, you drop your wallet!”). I checked my pocket where I placed my wallet, and it’s gone. I park my motorbike on the side of the street, and trying to look around to find my wallet frantically. My mind is darken, because my documents (ID card, ATM card, etc.) and all of my money are in those wallet. While finding my wallet, I’m trying to think about the consequences, and come to a conclusion “It’s okay, I can request to make the new documents later, and I still have my driving license (A) in the motorbike rental, also I still have my Rp 50,000.- from the guest house deposit”. Then, I remember that I put the document of the motorbike I rent in the wallet, then the panic strikes me again. After one hour and half I spend my time searching for my wallet without any result, I decided to report the problem to the rental owner. I said that I will exert every effort to find that wallet, but the result is the same, I still can’t find it. I call the rental owner again, and ask him if I could report this incident to the police, and he said yes. Desperately, I go to the police station and the officers ask me about the scene, time of incident, and list of missing documents. The officer need the document of ownership of the motorbike to process it. So, I call the rental again and tell him so, and then I go back to the hostel and prepare myself to join the gala dinner. I don’t have any money left, so this is my last resort to fill my empty stomach that night. After the gala dinner, the rental owner meet me in front of the hotel. We go to the police station together, and tell the incident to the officer again. Due to some circumstances, the rental owner must go for other occasion, and I still remains in the police station waiting for the certificate of loss and then get back to the guest house and sleep.

(The reason I said it was a curse is because there were also some incidents (it’s different though) when I prepare my requirements for my Bachelor degree. And it happens when I’m trying to collect the requirements for my Master degree)

 

Climax

Next day (October 27, 2016) is my last day in Balikpapan, my flight scheduled on 11.40, so I need to go to the Sepinggan airport at 10.00. In there, I meet the rental owner and give the certificate of loss to him. He said that I must pay the cost of making a new motorbike document, and of course I agree with that condition because I am the one who made this problem. So, I ask him his account number to transfer the compensation fund, and do the farewell handshakes. I walk to enter the airport, and he ride the motorbike to the administration office to make its document. In the lobby, the rental owner calls me with a disappointed tone, he said that the certificate of loss can not be used to make the new document, so he need to go back to the police station to make a new certificate of loss. Well, I am really speechless at that time, because I only have 10 minutes until my boarding call, so I can’t help him. All I can say to him is just my deep apologies. I fly back to Jogja, and when I turn on my phone he calls me again. He said that he must transfer the motorbike ownership to his, because he bought those motorbike from other man in the past. My mind get darken and darken, I can’t event think rationally at that time. The only one that I can think is the costs that I will spend to resolve this problem. As I knew, the cost of ownership transfer is quite high. Okay skip to the conclusion, the rental owner calls me again to bill the costs. He said he will only bill the document cost with a total of Rp 278,000.00. I said okay, but I need some time to take care of my ATM card first. After I get the ATM card changed, I transfer the mentioned fund to him as soon as possible. I feel so relieved and to celebrate it, I book “Doctor Strange” movie ticket for two (my friend and I). The film scheduled at 18.15.

 

Miracle Happened

15 minutes before I depart to the movie theater, I take a peek to my Facebook. There is a person sent me a friend request yesterday, precisely around 19.00 on Wednesday, two hours after I lost my wallet. I accept the request, and in a few minutes he send me a message that HE FOUND MY WALLET YESTERDAY! and he also gives his phone number for me to call. That was a joyous moment for me, and then I call that number as soon as possible. I introduce my self to him, and let him know that I am the owner of that wallet. He told his side of story about how he find my wallet. So, he tell me that when my wallet was dropped, the money were scattered on the street. People try to picked up my money for themselves, but this man who found my wallet is a hero. He said that he tried to collect the picked up money and he said that he will take care of my wallet. In that moment, I am very touched when he is telling that story. Then he asks me for my Blackberry Messenger (BBM) PIN, and we continue our chat via BBM. He wants me to send a picture of myself as proof. I send it, and I got his trust. He introduce himself as Gojek driver (driver of application based motorbike taxi). He tells me that he will send my wallet back to me, I gladly accept that offer. I insist him to use my money inside that wallet to pay for the delivery service and tell him that he can have some my money in that wallet as my form of gratitude.

UPDATE! On October 28, he send me my wallet and then send me the delivery receipt via BBM.

UPDATE! November 1, I get my wallet back. All the documents are still there with some of my money. Although, I offer him to take my money, he didn’t took it all but only take some of it (maybe only for the delivery service and his transportation costs). Such a rare good guy!

 

“FAITH IN HUMANITY RESTORED!”

 

You can see all of my photos during my visit in Balikpapan at https://imgur.com/a/zX4lJ

Hari 1: Departure (2D Singapore + 6D Thailand Trip)

Pesawat kami akan berangkat menuju Singapore dari Surabaya pada tanggal 4 September 2016 pukul 10.15 WIB dengan maskapai Tiger Air. Pada tanggal 4 September 2016 hingga pukul 02.00 WIB saya masih berlokasi di rumah saya di Ponorogo, dan pada pukul 02.30 saya mulai beranjak dari rumah di Ponorogo menuju ke Surabaya. Suasana jalan raya masih sangat tenang dan sepi, tak segan-segan saya memacu kecepatan motor Vario hitam yang saya tunggangi hingga 90km/jam. Hujan mulai turun saat saya memasuki kecamatan Saradan, dan berhenti hingga saya meninggalkan kota Mojokerto. Setelah sekitar empat jam dua puluh menit berlalu, saya tiba di bundaran Waru, tepatnya di depan Cito Mall Surabaya. Belum selesai sampai disitu, saya tetap memacu Vario hitam di jalanan kota Surabaya untuk bertemu dengan Delvo di meeting point yang telah dia tentukan, yaitu rumah engkong-nya. Sesampainya di rumah engkong Delvo, seorang suster membukakan gerbang dan mengijinkan saya masuk. Tak disangka ternyata dia adalah ‘tetangga’ yang asalnya dari Ngebel, dekat danau wisata yang tidak jauh dari kota Ponorogo. Saat saya tiba disana, Delvo masih akan berangkat dengan ayahnya yang akan mengantarkan kami ke Terminal 2 Juanda. Sambil menunggu Delvo, saya membersihkan diri setelah kehujanan dan kedinginan saat perjalanan. Sekitar pukul 07.15 Delvo pun akhirnya tiba, dan saya disuguhi sebuah bungkusan yang berisi nasi campur (Joss gandos!) untuk sarapan. Setelah sarapan, kami memasukkan tas kami ke dalam mobil yang akan kami tumpangi menuju ke Juanda dan langsung cus. Kami tiba di Juanda sekitar pukul 08.20, berpamitan dengan ayah Delvo, langsung menuju counter check in, melewati security check, laporan imigrasi, dan menunggu di lobby. Selang beberapa lama, panggilan untuk naik pesawat yang kami tumpangi mulai terdengar dari Announcer, dan itulah awal perjalanan kami.

Perjalanan menuju ke Singapore memakan waktu sekitar tiga jam. Aktivitas yang saya lakukan selama perjalanan adalah tidur, untuk memulihkan tenaga setelah empat jam perjalanan Ponorogo-Surabaya serta mempersiapkan fisik untuk hari pertama kami di Singapore. Kami tiba di Terminal 2 Changi pukul 13:40 waktu setempat, kami akan menghabiskan sekitar 16 jam di Singapore sebelum menuju ke Bangkok. Setelah turun dari pesawat, kami mencari counter check in yang berada di dalam lounge. Kami bertanya pada beberapa petugas lokasi counter check in Tiger Air dengan bahasa Inggris kami yang pas-pasan. Petugas tersebut dengan sabar memberi petunjuk menuju ke Transit E yang merupakan lokasi counter Tiger Air, dan kami pun mengikuti petunjuk yang diberikan oleh petugas itu. Kabar buruknya, saat kami menanyakan apakah kami bisa langsung check in untuk penerbangan esok hari, mereka menjawab bahwa check in hanya bisa dilakukan pada esok hari sebelum keberangkatan di public check in counter, yang artinya kami tidak bisa tidur di transit area Changi yang super nyaman malam itu (karena untuk kembali masuk ke transit lounge diperlukan boarding pass). Dengan berat hati, kami meninggalkan transit area Changi yang super nyaman itu dan berjalan melewati counter imigrasi ke public area. Kami telah berencana untuk pergi jalan-jalan ke kota, sehingga kami perlu menitipkan tas yang berisi pakaian dan perlengkapan kami di baggage left. Saat saya menunjukkan passport saya di counter baggage left, petugas laki-laki paruh baya dengan rambut yang mulai memutih menyapa kami “Dari Indonesia ya?” kami jawab “Iya”, petugas itu langsung merespon “Kenapa you tidak bilang, pake ngomong bahasa Inggris lagi… Ya memang kalau di Singapore tidak ngomong pakai bahasa Inggris dianggap kuno”, kami pun cengar-cengir mendengar jawabannya. Petugas itu menimbang dan kami membayar biaya penitipan barang sesuai dengan berat tas kami, lalu langsung cabut menuju ke stasiun MRT yang ada di basement Terminal 2.

Delvo membeli kartu EZ-Link yang digunakan sebagai media pembayaran saat naik MRT, sedangkan saya sudah memiliki kartu EZ-Link tersebut sejak 2 tahun yang lalu ketika saya pertama kali pergi ke Singapore (sendirian). Saat kereta datang, kami langsung naik menuju ke Bugis. Tujuan pertama kami adalah mencari Samsung Service Center, karena Delvo hendak men-servicekan Tab-nya yang chargernya rusak. Tab tersebut dibeli di Singapura, sehingga Samsung Service Center di Indonesia tidak mau menerimanya. Setelah menemukan Service Center, Delvo langsung mendaftar untuk service dan mendapatkan nomor antrean yang masih jauh dari nomor antrean saat ini. Selagi menunggu panggilan service yang masih lama, kami jalan-jalan melihat isi Plaza Singapura hingga akhirnya ‘tidak sengaja’ kami bertemu dengan 4 Fingers. Berhubung ‘daging’ kami sudah tidak kuat menahan lapar (kami belum makan sejak tiba di Singapura), akhirnya kami memutuskan untuk mencicipi ayam dengan bumbu yang gurih dan laziz ala 4 Fingers itu. Setelah itu kami mencari camilan, dan mampir ke BreadTalks untuk persediaan malam kami, tapi ya akhirnya kami langsung makan saja roti itu karena 4 Fingers masih kurang untuk memuaskan perut kami. Setelah makan dan ‘nyemil’, kami kembali ke Samsung Center dan menunggu hingga nomor antrean Delvo dipanggil. Nomor antrean Delvo pun akhirnya dipanggil, Delvo datang melaporkan keluhannya dan saya duduk menunggu sambil melihat-lihat handphone Samsung yang dipajang disana. Ternyata biaya service yang diperlukan cukup mahal hingga mengurungkan niat Delvo untuk service Tab-nya. Kami pun keluar dari Plaza Singapura untuk melanjutkan jalan-jalan kami.

Salah satu tempat yang menjadi objek wisata yang wajib dikunjungi di Singapore adalah Merlion Park, disanalah tujuan kami selanjutnya. Kami kembali menuju ke Bugis MRT Station dan menuju ke Raffless Place MRT Station yang merupakan stasiun terdekat untuk menuju ke Merlion Park. Sesampainya di Raffless Place, kami berjalan menuju Exit H, sedikit nyasar hingga akhirnya kami keluar dari MRT station. Saat kami keluar, kami menyadari bahwa kami masih jauh dari Merlion Park karena ternyata kami keluar dari Exit G. “Yah tidak apa-apa, itung-itung jalan kaki mumpung di Singapore” itu yang ada dipikiran saya. Well, tapi memang kenyataan berkata lain, sejak kami keluar dari stasiun MRT, kami disuguhkan pemandangan sungai, jembatan, taman, dan gedung-gedung pencakar langit dengan latar belakang langit sore nan indah. Lebih pas lagi, saat itu ada seorang bapak yang menjual Singapore Ice Cream (es krim yang diapit oleh biskuit), tidak ingin melewatkannya kenikmatannya, Delvo membeli dan menikmati es krim tersebut. Untunglah saya tidak lupa membawa kamera Canon A3500 milik adik untuk mengabadikan momen tersebut. Berikut adalah salah satu foto hasil jepretan kamera pinjaman adik saya:

Setelah cukup lama kami berjalan di pinggiran sungai dan taman, kami melihat Fullerton Hotel yang dibelakangnya terdapat patung Merlion lambang negara Singapura, kami pun langsung menuju kesana. Akhirnya kami bertemu dengan patung Merlion, hal pertama yang turis wajib lakukan adalah selfie dengan latar belakang patung Merlion. Delvo pun langsung menjepret dirinya sendiri dengan kamera yang tertanam pada handphonenya. Berhubung saya tidak terlalu suka menjepret diri saya sendiri, saya abadikan saja momen orang lain melalui kamera pinjaman itu.

Saat kami mencari spot lain disekitar Merlion Park, pandangan kami tertuju pada kemewahan hotel berbintang lima di seberang sungai dengan atap yang berbentuk kapal, ya, hotel itu bernama Marina Bay Sands (MBS). Dibaliknya terlihat langit megah berwarna jingga, biru, dan putih yang menjadi latar belakang kemewahan MBS. Tak kuasa menahan mata dan jari-jari ini, langsung kuambil kamera pinjaman itu dari tas dan kujepret pemandangan yang elok itu.

 

Setelah puas mengunjungi Merlion Park, kami lanjutkan perjalanan menuju ke Esplanade yang terletak tidak jauh dari Merlion Park. Disana, kami menikmati konser musik indie yang merupakan bagian dari acara harian di Theatre on the bay. Tak terasa, langit mulai menjadi gelap dan lampu-lampu gedung pencakar langit disekitaran pun mulai bersinar menunjukkan keanggunannya.

Setelah menikmati dua lagu, kami pun berniat ingin mengakhiri hari ini. Kami kembali ke Raffless Place MRT Station, dan memutuskan kembali ke Changi Airport untuk istirahat. Setibanya di Changi Airport, kami mengambil tas yang kami titipkan di baggage left dan lalu bersantai-santai sambil menikmati internet yang disediakan melalui WiFi gratis di dekat pintu keluar public area terminal 2. Mata kami mulai memerah akibat AC yang sangat dingin dan fisik yang mulai drop. Saat bandara mulai sepi, kami mencoba untuk tidur diatas kursi yang disediakan berjajar didepan Swensens. Kami mencoba merebahkan badan, tapi sepertinya usaha untuk itu tidak bertahan lama karena kursi yang menjadi alas badan kami berbentuk cekung, sehingga saat kami merebahkan bada akan terasa sakit di punggung apabila posisinya tidak pas. Saat tengah malam, masih ada beberapa orang yang lalu lalang disekitaran public area terminal 2, entah mereka hanya jalan-jalan berwisata ke Changi Airport atau menanti panggilan penerbangan mereka. Ada pula yang ikut bersama kami merebahkan badan mereka diatas ketidak nyamanan kursi pengunjung yang berjajar tersebut.

Yahh… Sekian dulu cerita hari pertama. Nantikan cerita selanjutnya Hari 2 di Pattaya.

 

Salam, dari wajah kumus-kumus kami setelah jalan-jalan seharian dan belum mandi (lebih tepatnya tidak mandi) ditemani gedung MBS yang menjulang dibelakang kami.

 

 

 

 


Album foto yang lebih lengkap, silahkan kunjungi halaman Facebook saya atau https://imgur.com/a/sayxw

Prelude: Rencana & Persiapan (2D Singapore + 6D Thailand Trip)

Hai!

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya dari awal persiapan hingga akhir perjalanan di Singapore dan Thailand selama 7 hari (2 hari di Singapore dan 5 hari di Thailand). Saya akan mencoba menjelaskan semua yang saya alami sedetail mungkin sesuai dengan yang ada dalam memori saya. Ok, here is the story…

Rencana trip ke Thailand sudah terpikirkan sejak tahun 2014, namun rencana tersebut sempat terlupakan. Pada bulan April 2016, rencana itu muncul kembali di pikiran saya setelah saya melihat video Mark Wiens di Youtube yang menceritakan beragam aktivitas serta kuliner di Thailand. Saya mencoba mengajak teman-teman saya untuk ikut trip ini, dan hasilnya salah satu teman saya yang bernama Delvo berminat untuk ikut. “Travelling bersama teman kelihatannya lebih menyenangkan dari pada travelling sendirian, ya paling tidak ada yang bisa motoin lahh…”, itu yang saya pikirkan.

Niat pergi ke Thailand sudah ada, teman yang mau diajak sudah ada, berikutnya adalah mencari waktu yang tepat untuk pergi. Saat itu, saya masih menjalani kuliah semester dua dan Delvo juga bekerja di Surabaya sehingga cukup susah untuk menentukan waktu yang tepat. Selain itu, prakiraan musim di Thailand juga harus dipertimbangkan. Saya mencoba menelusuri internet untuk mencari waktu yang tepat untuk pergi ke Thailand dan yang pastinya disaat Low Season agar harga tiket pesawat tidak terlalu mahal dan tempat wisata tidak terlalu ramai. Situs-situs yang cukup membantu untuk menentukan waktu yang tepat untuk pergi ke Thailand antar lain: Trip Advisor, Lonely Planet, Tourism Thailand, dan masih banyak lagi yang lainnya. Setelah mendapatkan cukup banyak informasi seputar musim di Thailand, pilihan saya jatuh pada bulan September. Saya pun coba mendiskusikannya dengan Delvo, dan Delvo pun setuju (walaupun cutinya habis dan terpaksa potong gaji). Kami pun akhirnya setuju untuk menentukan tanggal trip kami, yaitu 5 September 2016 hingga 11 September 2016, dengan asumsi bahwa saat itu saya sedang mengerjakan thesis sehingga waktu saya cukup luang (bahkan sangat luang) dan tanggal 12 September 2016 merupakan libur hari raya Idul Adha yang bisa kami gunakan untuk istirahat.

Pada bulan Mei 2016, saya berniat untuk membeli tiket pesawat Surabaya-Bangkok, namun ternyata passport Delvo belum terbit sehingga saya memutuskan menunda dahulu hingga passport Delvo terbit. Pada bulan Juni 2016, passport Delvo sudah terbit. Kami sesegera mungkin membeli tiket pesawat, karena dalam rentang waktu bulan Mei hingga Juni, harga tiket pesawat Surabaya-Bangkok sudah naik sekitar Rp 300.000,-. Kami mencari tiket pesawat di berbagai situs, dan pilihan kami jatuh kepada Traveloka karena menawarkan harga yang paling murah. Saat itu juga tengah berlangsung promo yang memberikan diskon sebesar Rp 150.000,- untuk tiket pesawat tujuan Thailand. Alhasil, saya membeli tiket pesawat Surabaya-Singapore (transit)-Bangkok untuk tanggal 4 September 2016 seharga kurang lebih Rp 2.100.000,- (setelah diskon promo) dan Delvo membeli tiket pesawat Bangkok-Singapore (transit)-Surabaya untuk tanggal 11 September 2016 seharga kurang lebih Rp 2.200.000,-.

Sebelum kami membeli tiket pesawat, saya sudah pernah membuat jadwal tentatif yang menjabarkan kegiatan kami selama trip di Singapore dan Thailand, serta rincian anggaran yang diperlukan untuk transport, akomodasi, wisata, dan lainnya. Pada awalnya saya berencana untuk singgah di Chiang Mai, Chiang Rai, Ayutthaya, dan Bangkok saat di Thailand. Namun rencana tersebut berubah setelah kami membeli tiket pesawat, mengingat budget yang dikeluarkan serta waktu yang dihabiskan untuk perjalanan ke Chiang Mai dan Chiang Rai cukup banyak. Kami pun akhirnya mengubah tujuan kami menjadi Pattaya, Ayutthaya, dan Bangkok, karena Pattaya cukup dekat dengan Bangkok (kurang lebih 3 jam perjalanan) dan biaya transport-nya pun jauh lebih murah dari pada tiket pesawat ke Chiang Mai. Saya pun me-revisi jadwal tentatif tersebut dan mengubah rincian anggaran dengan menyesuaikan lokasi-lokasi yang akan kami singgahi. Tidak lupa saya juga menyiapkan daftar-daftar tempat wisata yang akan kami kunjungi saat di Singapore dan Thailand. Dua minggu sebelum berangkat, kami telah menentukan lokasi-lokasi yang akan menjadi tujuan wisata kami.

Kami mulai memilih penginapan selama kami di Thailand seminggu sebelum keberangkatan. Rencana kami adalah memesan sebuah kamar di Pattaya untuk dua malam dan sebuah kamar di Bangkok untuk empat malam. Kami membandingkan harga penginapan dari beberapa situs, seperti: Booking, Agoda, Airbnb, dan Traveloka. Pilihan kami untuk bermalam di Pattaya jatuh kepada Jomtien Hostel yang kami pesan melalui Booking seharga THB 825. Lalu pilihan untuk bermalam di Bangkok jatuh kepada Hostel 24 yang kami pesan melalui Agoda yang ternyata juga dipesan dari Booking seharga THB 1.692. Alasan kami memilih kedua penginapan tersebut adalah karena harga yang relatif murah dengan fasilitas yang cukup baik, serta fitur “Book now, pay later” sehingga kami dapat membayar saat kami melakukan check in di lokasi penginapan. Ada pula satu alasan yang cukup memotivasi kami untuk memilih Jomtien Hostel, tapi alasan tersebut akan saya jelaskan pada cerita hari pertama kami di Pattaya.

Sebelum berangkat, pastinya kami telah mempersiapkan keperluan selama kami tinggal di negeri orang. Kami mempersiapkan sejumlah uang Singapore Dollar (SGD) dan Thailand Baht (THB) yang memenuhi kebutuhan kami selama kami disana. Sebelumnya, saya sudah pernah pergi ke Singapore sebanyak dua kali pada tahun 2014 dan 2015. Saya masih menyimpan beberapa lembar uang dan koin SGD dari perjalanan saya sebelumnya, sehingga saya tidak perlu merogoh dompet untuk membeli SGD lagi. Barang-barang yang tidak lupa saya siapkan antara lain: dokumen-dokumen penting (passport, KTP, SIM, dll.), pakaian ganti, perlengkapan mandi, krim sun block, payung (karena bulan September masih dalam musim hujan di Thailand), dan pastinya kamera (karena salah satu tujuan saya adalah mencari objek untuk belajar fotografi).

Well, itulah sedikit cerita tentang pengalaman saya merencanakan dan mempersiapkan segala kebutuhan sebelum berangkat ke Singapore dan Thailand.

 


Album foto yang lebih lengkap, silahkan kunjungi halaman Facebook saya atau https://imgur.com/a/sayxw